oleh Firanda Anda pada 18 Desember 2011 pukul 21:17
Perlahan tangan penyair itu kaku,
Dimana lagi tinta ini akan di goreskan,
Kalimat rasa terbawa angin beterbangan,
Tatapan mata hampa, cahaya tak menjadi rona,
Sementara si pelukis itu bermain dengan kanpasnya,
Satu persatu gambar terlukis indah mempesona,
Terlihat asa tercurah mengukir sepenuh jiwa,
Tatap bahgia tergambar diwajah dia,
Dan aku sibuk bersama lamunan tentang Nirwana,
Bidadari-bidadari dalam hayalan jauh diluar bayangan,
Semua fikiran tak mampu menjadi bahasa kiasan symbol gejolak perasaan,
Matilah aku diujung jari, kaku terasa di lidah, terpana oleh mata,
(firanda,Pontianak, 9:10 PM. 18 desember 2011)
0 komentar:
Posting Komentar