oleh Firanda Anda pada 6 Oktober 2011 pukul 11:46
“Saat matahari tersenyum,
Bumi meratap kepedihan,
Nafas-nafas membawa panas,
Gerah yang berkulit tumbuhkan keringat,
Waktu terus memikul taqdir,
Banyak mereka berkelubung malam,
Tubuh Merapatkan diri pada liang kuburan,
Sadar muncul di tebing dera nasib memungut kepiluan,
Detak-detak jantung mengukur jarak kematian,
Diujung tenggorokkan menanti kepastian.
Dengarlah lantunan kehidupan,
Ini kisah berjuta asa melekat ditelinga,
Rintihan dan keresahan bagai gelombang samudra,
Ambillah satu permata, jadikan kalung di jiwa,
Biarlah hati mendengar atau berbicara untuk mereka,
(firanda,ketapang, 10.47. 6 oktober 2011)
0 komentar:
Posting Komentar