Sabtu, 07 Januari 2012

"Diujung Matahari"


oleh Firanda Anda pada 6 Oktober 2011 pukul 11:46

“Saat matahari  tersenyum,
Bumi meratap kepedihan,
Nafas-nafas membawa panas,
Gerah yang berkulit  tumbuhkan  keringat,
Waktu terus memikul   taqdir,

Banyak mereka berkelubung malam,
Tubuh Merapatkan diri pada liang kuburan,
Sadar  muncul di tebing dera nasib memungut kepiluan,
Detak-detak jantung mengukur jarak kematian,
Diujung tenggorokkan menanti kepastian.


Dengarlah lantunan kehidupan,
Ini kisah berjuta asa melekat ditelinga,
Rintihan dan keresahan bagai gelombang samudra,
Ambillah satu permata, jadikan kalung  di jiwa,
Biarlah  hati  mendengar  atau berbicara untuk  mereka,


(firanda,ketapang, 10.47. 6 oktober 2011)

0 komentar:

Posting Komentar