oleh Firanda Anda pada 22 Oktober 2011 pukul 9:20
Malam yang sunyi di hutan, langit bertabur bintang, bulan terlihat berbentuk sabit menggantung di atas awang-awang, hembusan angin tidak kuasa untuk melambaikan daun-daun hijau yang bertebaran di pohon ara, perkutut terjaga tak dapat tertidur untuk memimpikan seorang bidadari disurga, keadaan terjaga mencoba menyusuri kegelisahan perasaan, jiwa yang terombang ambing pada kenyataan tuhan yang terus diucapkan dilidah hatinya.
Separuh hidup pekutut telah menyaksikan berbagai macam persoalan, tingkah laku makluk ciptaan tuhan, baik dan salah, gelap dan terang, kejam dan kasih sayang, bahkan ia berfikir tentang penciptaan dirinya terlahir di dunia sebagai perkutut, seekor burung yang tak terlihat gagah, atau bisa dikatakan makluk yang disegani di seluruh makluk hidup baik di rimba maupun belahan lainnya, sambil menghela nafas berat” Tuhan”.
Detik demi detik, menit-demi menit, logika perkutut coba mencari jawaban, dengan otak yang kecil berusaha merenungi makna kehidupan,” Aku terdiri dari daging, tulang yang terbuat dari tanah yang telah dijanjikan, sementara hidup (Nyawa) ini entah dari mana datangnya, walaupun aku memuji pemilik jasad ini, namun sampai sekarang belum dapat berkunjung atau bertatap muka SANG PENCIPTA, kerinduan akan DIRINYA , Aku Membawa jiwa serta raga selalu melantunkan kidung kehambaan tanpa henti, tanpa perduli, bahkan hidupun didunia terasa sepi, hampa, tuhanku”ujar perkutut membathin.
Perkutut tertunduk sedih, perlahan menetes air mata tanpa terasa, tanpa diminta, tanpa diupayakan, tanpa dipaksakan, kerinduan ini membawa seluruh jiwa dan raga coba mencari tempat bersemayam diriNYA, perasaan cinta terus saja menggelora bagai terpaan ombak pantai menghantam tepian perasaan. Kerinduannya membawa bernyanyi dimalam gelap gulita, bersenandung saat jiwa meminta, inilah cara melepas rasa rindu menjerit dalam sepinya malam”
“ Wahai pemilik jiwa,
Ijinkan hamba bersujud dengan bahagia,
Perasaan ini meminta aku menemuiMU pencipta,
Kepak sayap serta suara yang duduk terhina dihadapan Maha Mulia,
Sudilah ENGKAU menyapa aku untuk menentramkan kegelisahan hamba,
“Hamba datang tak membawa apa-apa,
Ku tahu ENGKAU maha kaya, semua ada begitu saja,
Kasih dan SayangMU sangat bermakna bagi hidup hamba,
CintaMU tentu minat para pujangga,
“Tuhan, segala keingian,
“Tuhanku, segala sesembahan,
“Tuhan, DariMU semua kasih sayang ,
“Tuhan, UntukMU senndung ini, ENGKAU Maha Pecinta Keindahan,
Perkutut kini terdiam, menikmati suasana malam di hutan tanpa terjamah oleh tangan-tangan keangkara murkaan, bathin terasa lapang, Lidah kaku terkunci setelah melepaskan beban penjiwaan,” Tuhan, Ijinkan aku tertidur dalam mengingatMU, hamba meminta tuhan”katanya sambil merapatkan dua belah mata sambil menundukkan kepala tanda sujud beribu makna, perlahan-lahan hanya terdengar suara nafas perkutut yang keluar dari hidung, tenang, teratur, tak ada kegelisahan yang bersembunyi dalam gerak tubuh bahkan mimpinya.
Diatas kayu ara, Di tengah hutan Rimba, semua makluk yang bernyawa disana terlelap tertidur, sebagian sibuk mencari makan sebagai taqdir, saat siang tertidur menanti senja, Kekuasaan Tuhan menyata terasa dalam diri perkutut, walau dia mahluk lemah namun tetap bersyukur atas keadaaanya, setiap hari selalu menatap hari penuh bahagia karena Allah itu nyata dan ada baginya.
(Firanda, Pontianak, 8:11 AM,22 Oktober 2011)
0 komentar:
Posting Komentar