oleh Firanda Anda pada 11 November 2011 pukul 19:08
Saat risau dirimu,
Ketika kegelapan menghampiri,
Kegalauan telah membeku mengoyak hati,
Air di kelopak matamu pecah menjadi embun,
Kini hanya berdiam,
Berdiri seperti patung mati,
Hanya nafas membawa amarah,
Terkoyak-koyak tiap lembaran kenangan,
Tapak tangan menutup wajah,
Bersembunyi dalam duka, membuang nestapa,
Seandainya luka perasaan ada obatnya didunia,
Embunpun pasti mengkristal menjadi hiasan para dewa,
(firanda,Pontianak, 7:02 PM, 11 November 2011)
0 komentar:
Posting Komentar