Sabtu, 29 Januari 2011

"Derita Petani"


oleh Firanda Anda pada 29 Januari 2011 jam 19:34

Wahai saudaraku,
Lihatlah nasi yang tersaji,
Lauk pauk diatas meja kita,
Nikmatnya makan dengan rasa suka,


Disana petani berkeringat,
Membasuh peluh diterik matahari,
Mengolah tanah berkubang lumpur,
Tersenyum saat panen memberikan harapan,


Kini saksikan derita mereka,
Tanah itu akan dirampas semena-mena,
Hilang sudah makanan yang biasa membawa keberkahan,
Mari bersama pertahankan dan berjuang,  bela petani yang menderita,
Rakyat pasti menang melawan penindasan, rakyatlah suara Tuhan.


(firanda(....)Pontianak. 7:31 PM. 29 Januari 2011)

"Kuminta Sebaris Do"a"


oleh Firanda Anda pada 29 Januari 2011 jam 14:51

Aku menangis di  air mata yang kering,
Hancurnya kehidupan masyarakat pedesaan,
Luka hati melebihi putusnya asmara menyesakkan dada,
Melihat tangis perih  dan derita  semayong semata berkubang  kehampaan,
Anak-anak, ibu bapak  dan kakek nenek  bertarung untuk sejengkal tanah pusaka,
Sekampung menolak perampasan tanah pertanian dan kebun karet sebagai pekerjaan mereka,

Penindasan,
Intimidasi kekuasaan,
Penghinaan terhadap kemanusiaan,
Morak marik prilku penegakkan hukum dikubangan kotoran,
Kebutaan orang-orang yang duduk disana, uang dan amarah membabi buta,
Mereka kehilangan logika serta nilai-nilai kebenaran yang membedakan salah dan benar,


Disini aku menjerit keras kelangit,
Berbisik pada yang mendengar kebenaran,
Para teman, sahabat , bapak dan ibu masih memiliki iman,
Sebuah kerikil yang dilontarkan, diucapkan adalah sebuah pertolongan,
Membantu berarti tanda kemuliaan  yang tak pernah kita sadar sebagai pahala.
Jalan-jalan benar banyak ragam menuju surge.

Aku mengajakmu melawan,
Wahai sastawan  pemegang bahasa,
Wahai para pembawa berita pemegang tinta,
Wahai cendikia pemilik ilmu manusia,
Wahai jiwa-jiwa yang berserakkan berkumpullah,
Disana ladang pahala dan surge menanti  para Rabbani,
Pencinta Ketuhanan bertarung melawan mereka iblis durjana,

Disini aku meminta kepada saudara,
Mohon  sebaris kata cinta ,
Kalimat do’a ,
Untuk mereka,

(firanda(…….)Pontianak. 2:08 PM.  29 Januari 2011)

"Hembusan Insan"


oleh Firanda Anda pada 24 Januari 2011 jam 23:03

Hembusan nafasmu terdengar dari sini,
Suara halus menyentuh qolbu,
Anginnya  tertiup dipipiku,
Terasa Segar bathin ini,


Duhai insan,
Jiwa kini melayang,
kuminum air hikmah para nabi,
Cahaya rohani lebih terang dari matahari,
Menyilaukan, mengagumkan, menyejukkan,


kita berdiri memandang cahaya,
Silau akan keindahan diluar sana,
mengagumi rupa yang sementara saja,
Disinilah kelupaan kita, khilaf akan surga,

(firanda(....)Pontianak. 10:55 PM. 24 Januari 2011)

"Balada Pendakian"


oleh Firanda Anda pada 24 Januari 2011 jam 17:45

Balada nafas serak manusia,
Implementasi logika  atau isi perut belaka,
Berpacu dengan nafsu-nafsi fatamorgana,
Waktu bergerak mencatat kehidupan,
Kemana sebenarnya hakekat  tujuan,
Finish perjalanan sebuah kenyataan,


Akhir manusia adalah kemusnahan,
Akhir kehidupan adalah penghargaan,
Akhir perbuatan adalah kenangan,
akhir keilmuan adalah jalan,

Kita coba mengisi kehampaan,
membawa air ke gelas berlubang,
Setiap hari mendaki bukit kesenangan,
jalan setapak membuat rute kita seorang,


(firanda(........)pontianak. 5:41 PM. 24 Januari 2011)

"Do'a Yang Tersimpan"


oleh Firanda Anda pada 22 Januari 2011 jam 23:41

Malam bergulir perlahan,
Berputar membawa mimpi kehidupan,
Setiap hati akan merasakan syahdu kegelapan,
bermacam suasana terlihat dilangit bulan temaram,



Disudut jendela berteralis,
Duduk memandang aura malam,
Angin sejuk bertiup perlahan membalut qolbu,
Dan jangkrik enggan menyanyikan lagu kerinduan,


Perlahan semua menutup mata,
Tubuh lelah kini Beranjak ke dipan,
Berbaring di atas tikar yang terbentang,
Terbesit do'a tersimpan,  semoga esok hari ada kebahagiaan,


(firanda(.........)Pontianak. 11:39 PM.  22 Januari 2011)

"Sang Pemantik"


oleh Firanda Anda pada 22 Januari 2011 jam 9:01

Kepada angin aku berharap,
Pada rembulan tempat  berkisah,
Untuk bintang tujuan pandangan malam,
Awan telah menghapus gairah menulis keindahan,


Entah mengapa pelita itu padam,
Cahayanya dulu terang berbalut temaram,
Minyak dibotol terlihat penuh buat 7 kegelapan,
Sang pemantik sumbu telah meninggalkan qolbu tanpa pesan,


Kini menanti cahaya,
Sumbu menunggu menyala,
biarlah hari dan waktu menanti,
Sang matahari semoga cepat kembali,


(firanda(....)Pontianak,  8:57 AM, 22 Januari 2011)

"Sang Pemantik"

oleh Firanda Anda pada 22 Januari 2011 jam 9:01

Kepada angin aku berharap,
Pada rembulan tempat  berkisah,
Untuk bintang tujuan pandangan malam,
Awan telah menghapus gairah menulis keindahan,


Entah mengapa pelita itu padam,
Cahayanya dulu terang berbalut temaram,
Minyak dibotol terlihat penuh buat 7 kegelapan,
Sang pemantik sumbu telah meninggalkan qolbu tanpa pesan,


Kini menanti cahaya,
Sumbu menunggu menyala,
biarlah hari dan waktu menanti,
Sang matahari semoga cepat kembali,


(firanda(....)Pontianak,  8:57 AM, 22 Januari 2011)

"salam Buat Pak Tani"


oleh Firanda Anda pada 21 Januari 2011 jam 8:16

Terlihat hamparan ladang,
Padi-padi menguning setiap petakan,
Nyanyian burung berkicauan loncat kesana kemari,
Panen raya menyemangati bulir padi dalam keranjang,


Pak tani dan bu tani,
Tersenyum penuh kebahagiaan,
Lelah dan keringat kini terbayarkan,
Anak-anak mereka tertawa riang siang dan malam,
Harumnya nanak nasi di dapur membangkitkan semangat kehidupan,


Sayang mereka bukan pedagang,
Harga pengolahan jauh dengan hasil yang diharapkan,
Ini masalah kebanggaan menjadi petani yang ditangannya ada kemuliaan,
Keringat setahun bercampur tanah membawa aroma perladangan menghapus kelaparan,

(firanda(...)Pontianak. 8:16 AM. 21 Januari 2011)

"Mari berkaca"


oleh Firanda Anda pada 20 Januari 2011 jam 22:40

bagaimana lahir kesombongan,
Keangkuhan menyelimuti kehidupan,
Membusungkan dada berbangga  saat berjalan,
"dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."



Luputnya kita membaca jiwa,
Melihat hakekat si insani,
Raga yang kian renta,
Tubuh ketika tak berdaya,



Malu menyusub dada,
Keangkuhan berhadapan pada MU,
Seolah lupa untuk berkaca,
Memandang siapa kita,
Mustahil bergetar qolbu,
Jauh bersanding pada pemberi rindu,

(112. Al Ikhlash(4))

(firanda(....)Pontianak. 10:38 PM. 20 Januari 2011)

Kamis, 20 Januari 2011

"Air Mata Rindu"


oleh Firanda Anda pada 20 Januari 2011 jam 22:20

Kita adalah manusia,
Terlahir dari kasih ayah bunda,
Sejarah juga bercerita lahir tanpa orang tua,
Kisah adam  hawa atau Nabi Isa bukti yang nyata,


"Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan"
kehendaknya tanpa sebab,
Sebagian ada musabab,
DIA lah berkehendak,
Maha sempurna,

Disini aku bertauhid,
menyempurnakan hakekat,
Bersujud pada yang tak menyerupai,
Memanggil bersama air mata rindu di hati,


(112. Al Ikhlash,(3))

(firanda(....)pontianak. 10:17 PM. 20 Januari 2010)

"Cinta...Kekasih menyayang"


oleh Firanda Anda pada 19 Januari 2011 jam 23:13

Cinta jika tertanam,
Menancap kokoh di perasaan,
Kukira sulit untuk berubah pandangan,
Keindahan dan keinginan ada pada  kekasih menyayang,


Tanah yang kering tersiram air,
Terik matahari teduh tertutup awan,
Ketika sedih memuncak DIA memberi kebahagiaan,
"Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu"

Ku hirup nafas panjang,
Terbenam kehambaan pada pengabdian,
Menghitung jumlah kenikmatan, tersenyum pipiku memerah,
BersamaNYA ada harapan, BersamaNYA ada kesenangan, Biarlah bulah terbelah,

( 112. Al Ikhlash.(2))

(Firanda(.....)Pontianak. 11:08 PM. 19 Januari 2011)

"Kita Adalah Tamu"


oleh Firanda Anda pada 19 Januari 2011 jam 22:30

Mengapa ada keraguan,
Pertanyaan mencari kebenaran,
Menjawab siapa pencipta kita manusia,
" Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa."


DIA,
Dan DIA,
Setiap wujud DIA,
DIA tak menyerupai kita,
DIAlah  yang membuka tabirNYA,


Aku, engkau adalah tamu,
Duduk, berbaring, berdiri didepan pintu,
Hak DIA menutup, membuka perasaan rindu,
Setiap kecintaan akan berkalung mutiara menyentuh Qolbu,
Harta yang tak mungkin dirampas, Terkeculi sengaja ingin melepas,


(112. Al Ikhlash (1))
(Firanda(....)Pontianak. 10:25 PM.  19 Januari 2011)

"Adakah Setitik Rasa"


oleh Firanda Anda pada 18 Januari 2011 jam 22:28

Sampai sudah penyakit kita,
Manusia yang terbuang dari surga,
Kisah kasih asmara ditaman suargaloka,
Menangis sendu merasakan nestapa,

Hancurnya kisah bahagia,
Hilangnya senyuman terindah,
Terampas sudah gairah yang dulu mempesona,
Pihak ketiga”  dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki."

Masihkah tersisa setitik rasa,
Sebongkah kepercayaan asa dari dinda,
Ingatkah akan janji kita bersama menghias perasaan,
Disini aku merangkai  kusut  persoalan untuk di ikatkan benang sayang,

(Al Falaq(5))

(firanda(…..)Pontianak. 10: 23 PM.  18 Januari 2011)

"Sihir Kata"


oleh Firanda Anda pada 18 Januari 2011 jam 21:48

Sihir bermantra,
Tampil dengan tebar pesona.
Membius mata serta jiwa bangsa,
Berubahlah setiap keyakinan bersendi logika,



Wajah bertopeng kebaikan,
Bertindak seolah malaikat kebenaran,
Reklame bertuliskan kebijaksanaan kerakyatan,
Para penyihir modern berdasi warna warni  menyesatkan,



“ dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul”
Berevolusi berbentuk provokasi dan propaganda berisikan  dusta,
Mulutnya  berKata sengaja berbahasa  merubah makna,
Gelap mata kaburlah fakta, Membuai angan belaka,
Kenyataan  fatamorgana, mimpipun sirna,


(Al Falaq.(4))

(firanda(.....)Pontianak. 10:00 PM.  18 Januari 2011)

'Bermenung Wajah"


oleh Firanda Anda pada 18 Januari 2011 jam 20:26

Malam berselimut misteri,
Keindahan kadang menggoda hati,
Sisa kehidupan tadi  membawa mimpi,
Bara siang menggelora tersimpan tak terperi,


Bermenung wajah wanita,
Menatap gelap membisik kata cinta,
Kenangan membawa pesona membelah dada,
Jerat jerit rintih si sufi di kegalauan impian surgawi,



Tubuh-tubuh lelah berbaring,
Terpejam mata masih membayang,
Dalam do'a dibawah mata besar Sang bulan,
Sampaikan salam buat buah hati penyejuk jiwa.
" dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,"

(113. Al Falaq(3))

(firanda(.....)Pontianak. 8:20 PM. 18 Janurai 2011)

"Moralitas Bangsa"


oleh Firanda Anda pada 18 Januari 2011 jam 19:31

Tentu ada beda perbuatan,
Nyata keburukkan atau kebaikan,
Warna Merah dan putih tampak tranparan,
Kini kejahatan terang kemudian kebenaran tenggelam,


Bermacam kerusakkan,
Kehancuran moralitas bangsa,
1001 wujud kenistaan diwajah negeri,
Lukanya hati tak bisa diobati hanya basa basi,


Kepada DIA kita berlindung,
"2. dari kejahatan makhluk-Nya,"
Cipta karya menorehkan duka serta amarah,
Membersihkan tangan berlumpur dosa kehidupan,
Sebersih-bersihnya sehingga tidak berbau kemunafikan,


(113. Al Falaq (2))
(firanda(....)pontianak. 7:25 PM. 18 Januari 2011)