Aku menangis di air mata yang kering,
Hancurnya kehidupan masyarakat pedesaan,
Luka hati melebihi putusnya asmara menyesakkan dada,
Melihat tangis perih dan derita semayong semata berkubang kehampaan,
Anak-anak, ibu bapak dan kakek nenek bertarung untuk sejengkal tanah pusaka,
Sekampung menolak perampasan tanah pertanian dan kebun karet sebagai pekerjaan mereka,
Penindasan,
Intimidasi kekuasaan,
Penghinaan terhadap kemanusiaan,
Morak marik prilku penegakkan hukum dikubangan kotoran,
Kebutaan orang-orang yang duduk disana, uang dan amarah membabi buta,
Mereka kehilangan logika serta nilai-nilai kebenaran yang membedakan salah dan benar,
Disini aku menjerit keras kelangit,
Berbisik pada yang mendengar kebenaran,
Para teman, sahabat , bapak dan ibu masih memiliki iman,
Sebuah kerikil yang dilontarkan, diucapkan adalah sebuah pertolongan,
Membantu berarti tanda kemuliaan yang tak pernah kita sadar sebagai pahala.
Jalan-jalan benar banyak ragam menuju surge.
Aku mengajakmu melawan,
Wahai sastawan pemegang bahasa,
Wahai para pembawa berita pemegang tinta,
Wahai cendikia pemilik ilmu manusia,
Wahai jiwa-jiwa yang berserakkan berkumpullah,
Disana ladang pahala dan surge menanti para Rabbani,
Pencinta Ketuhanan bertarung melawan mereka iblis durjana,
Disini aku meminta kepada saudara,
Mohon sebaris kata cinta ,
Kalimat do’a ,
Untuk mereka,
(firanda(…….)Pontianak. 2:08 PM. 29 Januari 2011)