Selasa, 30 November 2010

"MERINDU"

Firanda Anda pada 30 November 2010 jam 19:46.

Temanku dilanda rindu,
Cemburu mengekang perasaan,
Jiwa terombang ambing tiada ketentuan,
Hari-hari menahan kata menggoyang penjiwaan,


Kini kekasihnya pergi,
Meninggalkan untuk beberapa hari,
Berangkat pada sebuah tujuan kemenangan,
Sang pahlawan olah raga menjadi idaman kebanggaan,


Jerit hati terdengar syahdu,
Menggores tulisan ini dalam qolbu,
Kepadamu sahabatku yang merindu,
Benar besarnya cinta itu kepada buah hatimu,

(firanda(.....)Pontianak. 7:37 PM. 30 November 2010)

Jumat, 19 November 2010

"Mumet"

Firanda Anda pada 18 November 2010 jam 17:16.

Aku tak ingin membicarakannya lagi...
Semua tentang itu sangat menggelisahkan diriku,
Biarlah kunikmati minggu ini dengan melihat keindahan,
Wujud lain darinya, Matahari, Bulan, Bintang dan Bintang timur.


Tentramlah wahai jiwaku,
Redamlah wahai qolbu,
Bisikkan wahai hati,
Tutub bibir ini,


Disini gelisah menanti,
Disini rawan membebani,
Disini rasa tertindas perasaan,
Disini hari terus menghukum kesetiaan,


(firanda(.........)Pontianak. 3:40 PM. 18 November 2010)

"Mati Gaya"

Firanda Anda pada 18 November 2010 jam 22:27.

Mengetuk dinding hatimu,
Bukan dengan suara azan yang merdu,
Tidak juga denting lonceng saat waktu malam,
Terlalu halusnya perasaan untuk menangkap ungkapan,


Wajah itu manari didunia hayalan,
Menghibur hati mengucap kata pujian,
keindahan terpatri dalam hanya diriku seorang,
Saat sendirian tiba merenungkanmu bagaikan pujangga,


Bersenandunglah aku pada alam,
memandang Memujilah aku kepada bulan,
Bermimpilah aku untuk bintang,
Wujud dirimu membahagiakan,


(firanda(....)Pontianak. 18 November 2010.

"Ibrahim Kami"

Firanda Anda pada 18 November 2010 jam 8:33.

Ingatlah mekah,
Batu Bersusun bernama Baitullah,
Kisah mulia Nabi Ibrahim dan Ismail.
Dia ayah pembawa Ketauhitan 3 kepercayaan,


Wahai Jiwa Nabi Ibrahim,
JasadMu terbaring dibumi tercinta,
Disini kami malu menginjak dengan sombong,
Hapusnya ketawadhu'an sebagai mana engkau ajarkan,


Kerinduan ini,
Menggetarkan jiwa,
Qolbu berkata lirih menyebutMu,
Kisah keimanan dan pengorbanan jadilah suri tauladan,

(firanda(.....)Pontianak. 2:09 PM. 17 November 2010)

"Bunga Ditaman"

Firanda Anda pada 16 November 2010 jam 14:08.

Bunga di taman kami mekar,
Tadi tersiram oleh air hujan dari awan,
Mekarnya berwarna warni mempesona mata,
Tertegun aku diteras memandanginya dengan seulas senyum,


Langka dapat kulihat,
Jarang waktu menyaksikan,
Sebab hujan aku memandang sisi kehidupan,
Bahkan hanya genangan air di halaman,


Semoga esok tak ada hujan,
Bersama kita berkumpul melakukan peribadatan,
Hari raya Idul Adha dihalaman dengan ribuan orang,
Bersuka citalah wahai penghuni dunia walau engkau sendirian,

(firanda(.....)Pontianak. 2:02 PM. 16 November 2010)

"Labaik"

Firanda Anda pada 15 November 2010 jam 17:54.

Dalam kidung hatiku,
Bersama getar perasaan,
Kututub bibir dengan paksan,
Jiwa melantunkan pujian dalam diam,


Labaik Ya Allah, Ya Labaik,
Qolbu memanggil coba terpanggil,
Kerinduan seluruh wujudku dihadapanMU,
Sebuah perjumpaan adalah keinginan,


Kini rintihan demi rintihan tak tertahan,
Mengetuk -ngetuk pintu Arasy dengan perlahan,
Memanggil menyebut setiap Asma Kemuliaan,
Setiap Nafas kuserahkan padaMU tuhan,

(firanda(....)Pontianak> 5:45 PM. 15 November 2010)

"Demi Masa"

Firanda Anda pada 15 November 2010 jam 0:25.

Hari terus berlalu,
malam dan siang datang,
Musim hanya perbendaharaan putaran bumi,
Ribuan langkah tapak kaki terkadang bersisa sebagian terhapus,


kita hanya berusaha menjaga,
Melindungi yang dapat dilindungi,
Membela sesuatu sesuai kadar manusia,
Menggapai sesuatu impian sesuai raihan tangan,
Kita terbatas ruang dan waktu, Namun harus ada lompatan,

Disini, dibumi yang kecil,
Kita seperti anai-anai ditepian api,
Terbakar kemudian mati di alam kehidupan,
Saat sadar kita seolah terbangun dalam mimpi malam,


(firanda(.....)Pontianak. 12:24 AM. 15 November 2010)

"BintangKu"

Firanda Anda pada 14 November 2010 jam 14:09.

Malam mungkin gelap,
Satu cahaya yang kuminta,
Ku tak ingin seterang matahari,
Melihat langit disuasana kedamaian,


Kuminta bukan bulan,
Tidak juga Tebaran bintang,
Bahkan tidak juga untuk matahari,
Inginku disana, Bintang timur membawaku pulang,


Hanya satu bintang,

(firanda(....)Pontianak.12:38 PM. 14 November 2010)

Sabtu, 13 November 2010

"Nek Aki Terbaring"

Firanda Anda pada 13 November 2010 jam 17:37.

Dia telah berpulang,
Nek Aki penyatu keluarga,
Pemberi tebaran hikmah para insan,
Tempat mencari sejarah kehidupan keturunan,


Wahai pembawa benih,
Melekatkan nama kami bersamamu,
Kasih sayang tak mungkin terlupakan,
Engkau sang pembawa ketenangan perasaan,


Kini kulihat terbaring,
Dia Berselimutkan sehelai kain,
Bersama do'a dan bunga kuhantar pulang,
Di pintu bumi meninggalkan kerinduan yang dalam,
Terenyuh aku tak terungkap kata seindah sastrawan,

(Firanda(.......)Pontianak. 3:51 PM. 13 November 2010)

"Menunggu Matahari"

13 November 2010 jam 14:33.

Menunggu matahari,
Kabut pagi menyelimuti bumi,
Rona merah tampak diujung timur,
Lihat langit berjuta mimpi manusia beterbangan,


Lusuhnya pakaian,
Semarawut alas dipan,
Wajah terlihat tak rupawan,
Berkaca dipermukaan air tak beriak,


terkenang aku akan sahabat,
Mengingat aku akan kawan-kawan,
Dalam do'a semoga bumi memberikan kesuburan,
Semoga langit menampakkan matahari tersenyum dipagi yang mencerahkan,


(Firanda (......)Pontianak. 1:35 PM. 13 November 2010)

"Kisah Hutan"

Firanda Anda pada 13 November 2010 jam 13:13.

Dalam kerimbunan pohon,
Hutan yang lebat penuh kehijauan,
Suara kicauan burung bernyanyi riang,
Tanah basah membuat kesuburan tak terbilang,

Inilah keindahan hutan,
Perlahan kini mulai hilang,
Terkikis nafsu beralasan makan
Rimbunan menjadi padang ilalang,
Atau sejenis pohon milik satu orang.
Dengan 10.000 Ha lahan dipergunakan,


bayangkan mari fikirkan,
10.000 Ha tanah milik seribu orang,
Banyak anak akan terselamatkan masa depan,
Negara kehilangan sifakir miskin di tiap gang jalan,

(firanda(.....)Pontianak.4:12 Am. 13 November 2010)

Jumat, 12 November 2010

"Azan Subuh"

Subuh menjelang,
Kokok ayam bersautan,
Suara azan datang lantang,
Hatiku berbisik untuk sembayang,

Jasad yang temakan masa,
Terpaan dingin merintang tak tertahan,
Sementara syukurku harus di buktikan keiklasan,
Dan sebidang tikar tua terhampar lusuh diatas papan,

Kini sendirian,
Tak punya makmum,
Menanti dia yang setia dibelakang,
Bersama-sama menghadap Sang Maha Pencipta.

(firanda(....)Pontianak. 4:10 AM. 12 November 2010)

"Malam Adakah Cahaya"

Firanda Anda pada 11 November 2010 jam 22:31.

Ini malam,
Kusandarkan tulang,
Memejamkan mata perasaaan,
Menyusuri kilatan menuju cahaya terang,


Malam menuju idul adha,
Menyeru aku dengan segala pujian,
Kuputuskan pengabdian tanpa keraguan,
Hantarkan badan menghadap Baitullah penuh ketugahan,
Membuka mata telinga bathin beragakan jiwa yang diam,


Wahai cahaya,
Zat pemberi segala sukma,
Bertatapan kita diruang makna,
Menyatulah bersama besi membara,

(Firanda(......)Pontianak. 10:18 PM. 11 November 2010)

"Bernyanyi Padang Rembulan"

oleh Firanda Anda pada 11 November 2010 jam 22:00.

Sang rembulan,
Cahayamu berbinar terang,
Akupun tertegun cantik menawan,
Perasaanku terombang ambing hari terbuang,


Sayang dulunya aku bukan bintang,
Diri ini hanya segenggam pasir ditepi lautan,
Kini dia telah menjadi milik orang lain tak pernah terbayang,
Tenggelamlah aku dikeheningan malam kepada perhatian tuhan,


Aku seperti malam,
Sepi tanpa bulan serta bintang,
Bernyanyi tentang kisah padang rembulan,
Setia menanti cahaya untuk menerangi kegelapan,

(firanda(.......)Pontianak. 8:12 PM. 11 November 2010.

"Akupun Bersandar"

Firanda Anda pada 10 November 2010 jam 6:13.

Air mata tak mampu tertahan,
Kerinduan terus meradang menghantam,
Keinginan memaksa jiwa menuntaskan pada keharibaan,
Menyeret badan berkunjung kepada TUAN pemilik kehidupan,


Di penghujung malam menanti matahari,
Terbangun dari ketidak sadaran beberapa jam,
Memanggil yang bernama membersihkan badan menyuci qolbu,
Membasahi lidah menyebut ENGKAU dalam hati,


Akupun bersandar ditiang arasy,
Fokuslah wahai fikiran pada pencerahan,
Tela'ah setiap peristiwa mendulang pelajaran,
Bukalah pada mata hati yang buram untuk memandang cahaya kerohanian,


(firanda(......)Pontianak. 4:05 AM. 10 November 2010)

"MelarutkanNYA"

Firanda Anda pada 09 November 2010 jam 16:51.

Aku terbaring dikesadaran,
Tenggelam alam fikiran atas kejadian,
Dosaku dan dosa kita manusia demikian berat,
Bumi bernyawa sulit menahan beban himpitan kezaliman,


Dalam ruang kelelahan,
Himpitan badan begitu tajam,
Goresan luka menghantam perasaan,
Setiap peristiwa selalu kezhaliman yang dimenangkan,


Dan kita harus mengumpukan kekuatan,
Semangat juang terus dipupuk keiklasan pada tuhan,
Kularutkan zatku kepada ZatNYA yang memberi kekuatan,
Kematian sesaat telah kulakukan penuh penyerahan tanpa pertanyaan,
Berserta restu kepada bimbinganNYA terus berjalan membuang onak duri kehidupan,

(firanda(.....)Pontianak. 4:35 PM. 9 November 2010)

"Sebidang Tanah Kebanggaan"

Firanda Anda pada 08 November 2010 jam 22:10.

keadilan sulit dinegeri ini,
Salah dan benar milik mereka,
Sementara rakyat jelata selalu berdosa,
Dicap sebagai pendosa oleh kaki tangan Abu jahal,


Sementara mereka damai,
Memiliki lahan pertanian dan karet,
Pagi pergi menoreh, sore pulang bertemu keluarga,
Malam bercengkrama dengan handai taulan, cukup untuk kehidupan,


Kini lihatlah mereka,
Resah gelisah menembus dinding papan,
Mulut terdiam bukan bisu tapi sumbat kekuasaan,
Berdo'a disudut ruang memohon pertolongan untuk sepetak lahan,
Sebidang tanah yang bisa dibanggakan pada semua orang,

(firanda(.....)Pontianak. 9:59 PM. 8 November 2010)

"Cemburukah ?"

Firanda Anda pada 08 November 2010 jam 9:42

Apakah ini cemburu,
Melihat dia bersama terpaku,
fhoto berdua menusuk hati terasa sendu,
Mungkin hanya teman tapi tetap ragu,


Kupelihara rasa ini,
Menutup perasaan berbungkus rapi,
Tersenyum manis padanya dengan luka terperi,
Cukuplah semua kejadian menggoda semua asa cinta,


akhirnya usai sudah,
Tahulah seberapa besar sayang,
Keinginan untuk bersama dikau adinda,
Sekuat cemburu itulah aku terus berjuang,


(firanda(.....)Pontianak> 12:41 AM. 8 November 2010)

"Diujung Do'a"

Firanda Anda pada 08 November 2010 jam 0:23.

Akupun mengoyak puisiku ditanah penuh darah.
Dan Engkau sahabat menoreh langit berkabut debu.
memanggil Tuhan dan mengetuk hati manusia yang tertidur,
Qolbu menggaris dengan ujung pisau do'a bersama air mata duka,


Wahai yang mempunyai jiwa,
Mereka disana terus memeras logika,
Sebab akibat coba diurai dengan bahasa,
Sebagian kita menterjemahkan hikmah saja,


Kutulis rangkain kata keresahan,
Perih hati melihat kenyataan kehidupan,
Alam sudah tak bisa diajak berkawan,
Dan manusia sulit disadarkan,
Walau Tuhan yang bicara,

Disini menanti bencana,

(firanda(.....)Pontianak. 11:36 PM. 07 November 2010)

"Mencabut Gulma"

Firanda Anda pada 08 November 2010 jam 12:52.

Kini aku tidak bersedih tapi berduka,
Dimana kaki berpijak akan ada bencana,
Kenestapaan yang disebut hilangnya kemanusiaan,
Kerakusan menyeret manusia menjadi abdi uang dan kekuasaan,

Merapi dan mentawai,
Bencana oleh alam raya,
Ulah kita tanpa terasa oleh mata,
Bukan mencari salah tapi sebuah kebaikan,

Dan disemata,
Sambas tergoncang imoralitas,
Setitik tuba rusak susu sebelangga,
Kita tak bisa membiarkan prilaku nista,
Rusaknya tatanan sosial budaya disana,
Bersama harusnya mencabut gulma kehidupan kita,


(firanda(.....)Pontianak. 8:58 PM. 07 November 2010)

"Engkaulah Pelabuhan Hidup"

Firanda Anda pada 06 November 2010 jam 21:45
(Dia (lelaki) meminta padaku untuk mejawab atas apa yang dirasakan kekasihnya, berharap dengan bahasa yang sama, Ingin dia dipertemukan perasaannya dengan perasaan dia dalam satu sajak, aku coba sahabat dengan sebaik-baiknya, semoga hubunganmu baik-baik saja, kami yang memberi jempol dan mengomentari mengucapkan semoga tetap bahagia dan setia)


Sayang dinginnya hujan,
Berat untuk meninggalkan,
membiarkan engkau diruang sendirian,
Hanya berteman kenangan menggigit tulang,

Pilunya lagu qolbu,
Berpisah untuk merindukan,
Mengikat setia didawai buluh perindu,
Menangis hati tanpa air mata memeluk bayangan,

Setia tetap terjaga,
Menjamin adalah jiwa,
Tetaplah do'aku bernama sayang,
Tertunduk kepala kala aku berjalan menghapus godaan,

Tidurlah sayang,
Satu tali mengikat berduaan,
Raihlah tidur bersama do'a pada tuhan,
Disini memberi kabar kebahagiaan bersama angin,
Engkaulah pelabuhan hidup menjalani semua kehidupan,


(firanda(.....)Pontianak. 8:15 PM. 6 November 2010)

"Kisah Kekasihnya"

oleh Firanda Anda pada 06 November 2010 jam 20:54
(Diamnya dia(perempuan) bicara padaku, menyampaikan keluh kesah dan dia Ingin membaca syair malam ini, sebagai hiburan hati yang ditinggalkan kekasih hati, kekasih yang sedang bekerja jauh disana, maka kubuatkan sajak penghibur semoga ini terbaik baginya dan kekasihnya)


Kini malam berselubung,
Hujan meradang memilukan,
Terkurung dalam ruang kesunyian,
Kekasih pergi menunaikan kewajiban.

Terpaksa meredam kerinduan,
Bibir hati menyebut sayang pada kekasih,
Rela ini apakah berbalas hamparan harapan,
Mendekaplah guling dihimpitan hasrat belaian,

Kantuk tak kunjung datang,
Sementara kamar menjadi saksi cinta,
Cerita dua insan mengarungi bahtera kehidupan,
Menetes air mata oleh kenangan indah terus menyerang,

Kau biar air membasahi pipi,
Inipun tak ada orang tahu perasaanmu,
Biarkanlah rasa ini mengalir bagaikan intan,
Genggam bayangan bahagia di atas bantal malam,

selamat tidur sayang,
Tetaplah untuk berjuang,
Ku tunggu engkau datang,
menyambutmu dengan kasih tak terbayang,

(Firanda(....)Pontianak. 7:27 PM. 6 Noverber 2010)

Aku Rindu

Firanda Anda pada 06 November 2010 jam 9:46

Aku yang rindu,
Engkau yang disana,
Hampa kini waktu terasa,
Kunanti terus menghitung detak jantung,


Selalu tanpa daya,
Untuk menahan dirimu sayang,
Kungin engkau rasakan kesia-siaan,
Tanpa belaian malam tak berbintang,


Maafkan aku terkadang putus asa,
Setia selalu menghalangi perpisahan cinta,
Bila umur panjang pastinya aku akan datang,
Menghapuskan segala pahit getir menghantam perasaan,

aku akan datang sayang....terlalu lama.....

(firanda(....)Pontianak.1:02 AM. 6 November 2010

"Semua Hengkang"

Firanda Anda pada 05 November 2010 jam 9:44

Masihkah ada air mata negeri ini,
Atau bersisakah perasaan belas kasihan,
Keadilan tak pernah kami rasakan,
Ujar seorang ibu tua renta,


Terenyuh aku mendengarnya,
Dia menyesali punya negeri,
Beberapa anak meninggalkan negeri,
Lebih baik ke negeri jiran,


Bukan hanya kehidupan mereka pergi,
Kekerasan bangsa sendiri semua hengkang,
Meninggalkan bangsa yang dia sesali,
Kini merah putih hanya dimata bukan dihati,

(firanda(....)Pontianak. 8:42 AM. 5 November 2010)

"Darah dari Desa Semata"

Firanda Anda pada 05 November 2010 jam 15:58

Inilah lagu kesedihanku,
Dari kebun karet terdengar memilukan,
Pohon -pohon itu kini tak akan kelihatan rindang,
Tumbang tak bernyawa oleh deru mesin uang dan kekuasaaan,


Kampung yang tentram kini panas membara,
Anak-anak diusir dari tanah kelahirannya serta tempat bermain,
Ibu-ibu menatap sendu menetes air mata, meratapi nasib putra putri,
Ayah dan anak laki-laki bahu membahu berteriak, Ini tanah dan kebun kami,


Apalah daya kini, suara dibungkam bogam,
Protes dihadang ujung pistol aparat memihak uang,
Keinginan disumbat oleh intimidasi dan ancaman ,
Cita-cita dihadang kebijaksanaan penguasa,


Dua orang telah berdarah air mata tertahan,
Hilang sudah budaya kemanusiaan diganti kekerasan,
Penindasan oleh pemerintah, pengusaha dan aparat,
Terdengarlah dari alam menuntut suara kedamaian,
Hati-hati luka berdarah cikal bakal dendam,
Saat waktu tertumpah tak terlawan,
Ketika itu kita akan menyalahkan mereka,
Masyarakat tertindas diam terpendam,


(Utk dua sahabat ku yang teraniaya Lezi dan Humaini yang terbaring di Rumah Sakit Sambas, kejadian didusun Sari Medan, Desa Semata Kecamatan Teluk Keramat dan masyarakat yang tertindas, terancam hanya utk cucuran keringat pohon karet yang ditanam serta menjadi tumpuan hidup keluarga...di kecamatan Teluk Keramat Desa Semayong dan Desa Semata....)
(firanda(.....)Pontianak. 8: 02 AM. 5 November 2010)