Minggu, 01 Januari 2012

( Surat Untuk Kekasih)


oleh Firanda Anda pada 3 Desember 2011 pukul 15:04

Sia-sia, Mungkin berlalu begitu cepat, waktu terus berjalan tanpa henti, sementara aku hanya duduk melamunkan dirimu, bayangan wajahmu terus hinggap saat sepi dan kerinduan, beban hidup membelit diri tak terlalu  berat untuk dijalani, Namun tanpa kehadiranmu disisiku,  hambar, pahit dan tak nyaman meniti langkah di kehidupan.

Ini kusadari baru sekarang, kenyataan cinta itu merambat perlahan mengisi ruang yang telah lama hilang, hangus, terbakar oleh tragedy percintaan, peristiwa mengguncang keyakinan, terkadang perbedaan kasta, kemudian pilihan orang tua, selebihnya bicara yang tak pernah usai sampai batas yang mempertemukan atau ruang saling memahami, putus ditengah jalan, …pahit..pahit untuk dikenang.

Demi masa, Sejak pertemuan pertama, hatiku sudah mulai terasa ada sesuatu membuat keresahan bathin, namun itu kuanggab biasa, tak punya makna atau bentuk kerinduan yang hampa telah mempermainkan perasaan, terkadang ada rasa cemburu, rasa tak suka engkau dekat dengan orang lain atau bermanja-manja, sialnya egoku, engkau adalah pribadi yang merdeka, kecemburuan itu kucarikan obat dengan melupakan, menghindarimu, menyibukkan diri, berkelana kesemua tempat dan bahkan tafakur diMihrab Masjid dan surau, gilanya semua itu tak ada obatnya, kemudian untuk sesaat bisa hilang tapi tersimpan di bawah alam sadarku, demikianlah perasaan itu berlalu.

Ketakutan menelan pil pahit menggores pena, tulisan hanya mencoba mengukur asa, seberapa dekat jiwaku dan jiwamu, seberapa besar kasih dan sayang padamu, menyakinkan diri sedalam apa cinta telah bersarang, aku hanya coba menghapus keraguan, satu wanita untuk kehidupan.Lama dan terlalu lama aku berdiam untuk berbicara pada diri sendiri, namun waktu memang berlalu.

Aku hanya bisa mencuri pandang, mencuri penglihatan, tersenyum menyaksikan setiap kehadiranmu walau cara diam-diam, Sampai sekarang aku tak tahu apa yang paling kusukai darimu, penyebabnya setiap apa saja darimu selalu mempesona diriku. Senyummu, tawamu, candamu, gurauanmu, kerjamu dan banyak lagi, maka sangat sulit bagiku menentukan kesukaan terhadap dirimu.

Ingin  aku bertemu sekali lagi, bicara denganmu, sekedar melihatmu, semua untuk mengobati kerinduan, surat ini hanya untumu…seseorang yang telah membuat waktu  berjalan begitu cepat, kutulis 2000 prosa berbalut cinta, keresahan, kerinduan, sepi dan perjuangan.

Kepadamu kutulis aksara,
Ciptakan rangkaian bunga kata,
Menghidangkan madu rasa disegelas jiwa,
Tanda mata curahan kasih sayang dari pemuja yang cinta,

Salam untukmu, aku yang berdiri di gerbang harapan, bersandar ditiang penantian, terdiam menanti jawaban, selayang surat ini sudah dibawa  angin, dititipkan pada awan dan bacaalah saat pelangi tampak menggaris mempertemukan kayangan dan bumi.

( Dari yang Menyayangi)



(firanda,Pontianak, 2:51 PM. 3 Desember 2011)

0 komentar:

Posting Komentar