Minggu, 31 Oktober 2010

"Terpenjara"

Firanda Anda pada 31 Oktober 2010 jam 1:50.

Aku bisa terpenjara,
Pada ruang kotak fikiran,
Hujan malam terus membelenggu,
Menghayal dimensi yang berbeda, fatamorgana,

Dalam ruang bersudut empat,
Halusinasi logika menerawang masa depan,
Mengais butiran mutiara yang mengambang diperasaan,
Membuka gembok keterpurukkan dengan kunci pencapaian,

Bersama malam,
Sendiri dalam kesunyian,
Mencoret bingkai kehidupan,
Menetapkan hati untuk masa depan,


(firanda(....)Pontianak. 1:44 AM. 31 Oktober 2010)

'Memerah Hati"

Firanda Anda pada 30 Oktober 2010 jam 16:53.

Kala senja akan tiba,
Malam minggu didepan mata,
Hati terasa berdebar menanti adinda,
Di ujung langit aku coba bertanya kerinduannya,

Dengan tubuh berpakaian rapi,
Semprotkan harum bunga melati,
Rambut hitam berjejer tersusun rapi,
Tersenyum didepan kaca agar pantas dipandangi,


(firanda(.....)Pontianak. 4:47 PM. 30 Oktober 2010)

"Untukmu Merapi"

Firanda Anda pada 30 Oktober 2010 jam 14:24.

Kepada angin aku berseru,
Untukmu awan aku meminta,
Bertiuplah wahai engkau di merapi,
Sejukkan dia yang marah mengeluarkan larva,


Saatnya alam memberi kasih sayang,
Basahilah bumi persada ketika air mata jatuh disana,
Sejukkan jiwa -jiwa yang jasadnya letih panas membara,
Dan gunung merapi harus tertidur dalam kedamaian yang meminta,


Allahpun berfirman,
Sebab tangis bayi yang suci,
Ratap sedih kaum yang beriman,
Karena mereka yang terzalimi,

Akupun Meminta, Kabulkan........


(firanda(.....)Pontianak. 2:16 PM. 30 Oktober 2010)

"Surat untuk Merapi,

Firanda Anda pada 30 Oktober 2010 jam 13:09.

Wahai merapi,
Kini hatiku gelisah,
Perasaanku sungguh resah,
Jiwaku dirundung kesedihan,


Batukmu,
Apa Marahmu,
Membuat Bencana,
Menyebabkan kematian,
Mengakibatkan kerusakkan,
Dan air mata mereka berjatuhan,
Teriak kepiluan menggetarkan telinga,
Tercabik rasa mendengar sauadaraku kehilangan,


Aku hamba yang da'if,
Menghendaki engkau berdiam,
Berhentilah dengan tenang,
Aku dan dirimu sama,
Kita kepunyaanNYa,

Dia Maha Pengasih Penyayang,

(firanda(....)Pontianak. 12;57 PM. 3o Oktober 2010)

"Selamat Jalan Saudaraku"

Firanda Anda pada 30 Oktober 2010 jam 1:18.

Kuhitung nyawa melayang,
Tubuh-tubuh mereka bergelimpangan,
Lumpur lautan naik terhampar di daratan,
Pepohonan bertumbangan tak beraturan memenuhi jalan,


Ditanah yang basah,
Habis sunami berkunjung,
Dalam lubang mereka bersama,
Berhimpitan menyongsong mimpi panjang,


Selamat jalan saudaraku,
Kutitip salam di dua tapak tangan,
Dari jauh menatap aku penuh kesedihan,
Dulu pantai itu hamparan keindahan kini hanya bekas kematian,


(firanda(.....)Pontianak. 12:14 AM. 30 Oktober 2010)

'Tangisnya Untuk Siapa"

Firanda Anda pada 29 Oktober 2010 jam 21:11

Dan bayi terhanyut,
Terbawa arus sunami.
Terlepas dari pelukkan bunda,
Bencana memisahkan mereka berdua,


Tergolek lemah,
Bercahaya cerah,
Tersenyum bahagia
Sunami mentawai berkelakar,


Simungil,
Kini hlang ayah bunda,
Tak berdaya menatap dunia,
Kini tangisnya untuk siapa.......

(firanda(.....)Pontianak. 9:01 PM. 29 oktober 2010)

Air Mata Gadis Mentawai"

Firanda Anda pada 29 Oktober 2010 jam 21:14.

Engkau menangis,
Menanti dibibir pantai,
Mencari ayah telah lama pergi,
Air mata mentawai bercampur air lautan,


Tanpa beralas kaki,
Menyusuri sepanjang pesisir,
Berjalan diatas serakkan pepohonan,
Sembab wajah menyucur di pipi diterang matahari,


Menjerit memanggil ,
Berlari kesana kesini ingin tahu,
Dimanakah ayah tercinta,
Berhenti memandang biru lautan,
" Ya Allah dimanakah ayahku"

(firanda(....)Pontianak. 8:21 PM. 29 Oktober 2010)

"Mentawai sampai Merapi"

Firanda Anda pada 29 Oktober 2010 jam 11:26

Inilah bahasa duka,
Tetes air mata manusia,
Jatuh tubuh sedih dibumi persada,
Rataban anak bangsa dicoba bencana,

Tangisan ini bukan milik mereka,
Tersayat perasaan hampir dipenjuru nusantara,
Mata tak lepas mencari kabar tentang saudara disana,
Tidak hanya do;a, Namun sedikit rezeki tanda kasih sayang hamba,


Banyak anak kecil menangis,
Orang tua meneteskan mutiara,
Gemetar tubuh mereka menyaksikan jasad terbaring,
Ratusan orang tertidur berkalang tanah sisa cemas siang,


Para penguasa negeri,
Sekian lagi terlambat menyelamatkan,
Kecewa kami mengapa musti ada korban,
Saat alam sudah tidak perduli akan kehidupan,

Dan disini,
Kutulis kata kesedihan,
Luka hati terasa sangat dalam,
Ketika pertolongan lambat dibahasakan,


(firanda(....)Pontianak. 9:34 AM. 29 Oktober 2010)

"MilikMU"

Firanda Anda pada 28 Oktober 2010 jam 0:12
Dan aku mengucap tasbih pada Allah,
DIAlah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang,
Mengetahui segala yang tersembunyi dari segala isi hati,
KepadaNYA segala harusnya aku kembalikan,

Inilah jiwa ku dan MilikMU,
Qolbu dihempaskan dari keduniaan,
Mengagungkan dengan bahasa percintaan,
Menyadarkan kesempurnaan bersama seorang perempuan,

Banyak kita bersembunyi dikegelapan,
Ketakutan pada cahaya terang benderang,
Mimpi-mimpi mengusik menjadi kenyataan,
Sementara tangan masih mengenggam debu kehidupan,
Salah dan benar seolah hanya permainan menyenangkan dalam perasaan,
Kiranya kita harus berdiam, Membiarkan rasa dan raga menikmati manisnya kebenaran,
Sesaat saja, itupun lebih baik dari pada tidak sekali, aku mengajak diriku sendiri..Songsonglah matahari,

(firanda(….)Pontianak. 12:06 AM . 28 Oktober 2010)

Kamis, 28 Oktober 2010

"kENAPA"

Firanda Anda pada 28 Oktober 2010 jam 3:40.

Hati sering bertanya,
Terlalu jauhkan engkau disana,
Bayangan penghapus kejenuhan jiwa,
Hadirlah walau sekelebat rupa,


Rintihan awan,
Akhir mendung berupa hujan,
Basahilah rerimbunan pohon yang akan mati,
Tutuplah sementara matahari agar tercipta kesejukan kami,

Hanya kamu,
Tak pernah ada selainmu,
Kujaga erat bersama perekat perasaan,
Hanya dia harta terindah di dalam kehidupan,

(firanda(….)Pontianak.3:37 AM. 28 OKTOBER 20100

Rabu, 27 Oktober 2010

"MilikMU"

Firanda Anda pada 28 Oktober 2010 jam 0:12.

Dan aku mengucap tasbih pada Allah,
DIAlah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang,
Mengetahui segala yang tersembunyi dari segala isi hati,
KepadaNYA segala harusnya aku kembalikan,

Inilah jiwa ku dan MilikMU,
Qolbu dihempaskan dari keduniaan,
Mengagungkan dengan bahasa percintaan,
Menyadarkan kesempurnaan bersama seorang perempuan,

Banyak kita bersembunyi dikegelapan,
Ketakutan pada cahaya terang benderang,
Mimpi-mimpi mengusik menjadi kenyataan,
Sementara tangan masih mengenggam debu kehidupan,
Salah dan benar seolah hanya permainan menyenangkan dalam perasaan,
Kiranya kita harus berdiam, Membiarkan rasa dan raga menikmati manisnya kebenaran,
Sesaat saja, itupun lebih baik dari pada tidak sekali, aku mengajak diriku sendiri..
Songsonglah matahari,

(firanda(….)Pontianak. 12:06 AM . 28 Oktober 2010)

"Hujan Membawa Mimpi"

Hujan terasa dingin,
Hawa malam membawa selimut,
Bantal guling coba menggoda tiduran,
Dan tangan mengetik tulisan terasa melumpuhkan,

Sekian lama menunggumu,
Bukan kita telah berjanji untuk berjumpa,
Derita ini pahit sekali memendam pertemuan,
Akhir malam terasa berat menahan qolbu berdiam,

Ku ingin selalu disisimu,
Tak kubiarkan engkau sendirian,
Melukis malam sebagai bahan renungan,
Wajah keibuan menggoda mimpi- mimpi dikesendirian,

(firanda(….)Pontianak. 11:02 PM. 27 Oktober 2010)
,

"Aku membisu pada mu"

Firanda Anda pada 27 Oktober 2010 jam 0:08

Aku hanya membisu,
Diam tanpa bersuara ragu,
Melihat tulisan menyindir qolbu,
Merangkai kata semanis buah jambu,


Aku tak mungkin tergoda,
Bisikan nyanyian buluh perindu,
Bermanja kata asing bagiku ditelinga,
Suka karena engkau apa adanya,


Demi waktu,
Masa akan terus berlalu,
Melaju zaman saat kita ragu,
Dan aku tetap setia kepadamu,

(firanda(...)Pontinak.11:52 PM.26 Oktober 2010)

"Cambuk Bahasa"

Firanda Anda pada 26 Oktober 2010 jam 23:48.

Lihat hutan itu,
Tumbuhan yang indah,
Bunga yang warna warni,
Hewan melata bermacam rupa,
Rahasia tuhan tak pernah dapat terbeli,


Kini hancur merata,
Sabang sampai marauke tak tersisa,
Punah ranah meninggalkan segala kehidupan,
Mataharipun tak sungkan membakar dengan cahaya,

Oh Nasib indonesia,
Dan kalimantan tercinta,
Merana meraung alam kepada durjana,
Marah melontarkan semua bencana,
Terkaparlah si jelata tak berdaya,


Dipundak setiap kita,
Pikullah perlawanan membaja,
Kuatkan dirimu seperti singa.
Cakar dengan kata-kata,
Cambukkan bahasa,


Tak pernah berhenti,
Hari ini atau nanti,
Tetaplah berdiri,


(firanda(....)Pontianak.11:18 PM. 26 Oktober 2010)

"Lidah Api"

Firanda Anda pada 26 Oktober 2010 jam 22:48

Kata-kata membakar,
Lidah api telah dilontar,
Tangan halus terkepal menghajar,
Membara semangatmu dijalan penuh terjal,


Lihat sisi kiri dan kanan,
Realita kenyataan bumi persada,
Lemah akan selalu tertindas sitopi baja,
Atau tertembak ditangan peluru aparatur negara,


Bintang telah bermunculan,
Surakanlah perasaan keadilan,
Tancabkan jiwa ditanah gersang,
Esok engkau akan maju di medan perang,

(firanda(.......)Pontianak.10:43 PM. 26 Oktober 2010)

Selasa, 26 Oktober 2010

"Kepada Angin"

Firanda Anda pada 26 Oktober 2010 jam 15:16.

Saat duduk sendiri,
Bertanya aku tentang hati,
Kemana qolbu bertiup kala senja,
Bersama siapa bintang berteman dimalam hari,


Bermenung ria,
Membayangkan hadirnya,
Berdirilah engkau didepan mata,
Wahai penyejuk dahaga,


Kepada angin yang bertiup,
Engkau membuat mata terpejam.
Bergoyang rambut melambai layak tangan,
Tertitip salam pada dia gadis yang telah menawan,
disini 1000 kerinduan akan muncul dipermukaan perasaan,

(firanda(....)Pontianak.3:02.PM. 26 Oktober 2010)

"Kini Aku Disampingmu"

Firanda Anda pada 25 Oktober 2010 jam 21:58.

Wajahmu menawanku,
Mengikat untaian kerinduan,
Menutup jendela cinta yang lain,
Berdiri diruang hati tanpa kehampaan,


Dan kini aku disampingmu,
Tetap setia bersama tanpa keraguan,
Rasa ini telah engkau tabur berjuta bunga cinta,
Tercium bau kasturi memabukkan perasaan,


Kau buka pintu masa depan,
Jalan rumah tangga ditunjuk dengan tangan,
Terlihat sudah bahtera yang berlayar di lautan asmara,
Genggaman tanganmu memacu tiupan kasmaran,

(firanda(.....)Pontianak. 9:50 PM. 25 Oktober 2010)

"Padamu Aku tersenyum"

oleh Firanda Anda pada 25 Oktober 2010 jam 23:18.

Lelah dan letih ini,
Nafas tak terbuang percuma,
Beban perasaan hilang menghampa,
Hadir dirimu meredam gelisah bermuara,
Hariku penuh senyum,
Langkah membawa bunyi bahagia,
Semua Tulisan menggambarkan dikau saja,
Dimata terlihat pelangi sepanjang masa.
Kunyanyikan lagu sepanjang hari,
Bersuara maupun didalam hati,
Biarlah semua asa terwakili,
Bimbiang itu kuusir pergi,

(firanda(......)Pontianak.11:10 PM. 25 Oktober 2010

"Aku Datang"

Firanda Anda pada 26 Oktober 2010 jam 11:56.

Dan aku marah pada mereka yang tak tahu hak milik,
Ku maki mereka merampas yang tak berpunya,
Melempar batu kemuka biar dia berlari,
Iblis-iblis yang tak berbudi.


Zhalim yang mereka pelihara,
Brutal cara merampasnya,
Karena ketamakkan,
Hati-hati kelam,


Aku datang menerima panggilanMU,
Labaik Tuhan aku berseru,
Goncanglah seluruh qolbu,
Jadikan Tangis rindu,
Bercahayalah biru,

(firanda(....)pontianak.11:49 AM.26 Oktober 2010)

Senin, 25 Oktober 2010

"Kini Aku Disampingmu"

(Firanda Anda pada 25 Oktober 2010 jam 21:58)
.
Wajahmu menawanku,
Mengikat untaian kerinduan,
Menutup jendela cinta yang lain,
Berdiri diruang hati tanpa kehampaan,


Dan kini aku disampingmu,
Tetap setia bersama tanpa keraguan,
Rasa ini telah engkau tabur berjuta bunga cinta,
Tercium bau kasturi memabukkan perasaan,


Kau buka pintu masa depan,
Jalan rumah tangga ditunjuk dengan tangan,
Terlihat sudah bahtera yang berlayar di lautan asmara,
Genggaman tanganmu memacu tiupan kasmaran,

(firanda(.....)Pontianak. 9:50 PM. 25 Oktober 2010)

Minggu, 24 Oktober 2010

"Lukamu Begitu Dalam"

Firanda Anda pada 24 Oktober 2010 jam 23:48.


Catatan Anda telah dibuat
Senja ini temaram,
Walau tidak terlalu kelam,
Suasana terlihat canggung sesama teman,
Bekas senda gurau masa lalu menampakkan bekas di dinding perasaan,


Aku tahu engkau membalas dendam,
Cantulkan nama untuk menyakitkan seorang teman,
Inilah mungkin luka perasaanmu sebegitu dalam membekas terendam,
Dan membiarkan diri menjadi alas dan tameng menyindir dinding sekawan,


Marah itu belum hilang,
Menghentak untuk menikam,
Memuaskan diri akan membayar penghianatan,


Berfikir akan pertemuan perpisahan,
Manis dan pahit air minum arungi bahtera keduniaan,
Keiklasan mungkin terlalu sulit untuk diberikan tapi bisa diupayakan,
Sedih juga dua sosok pribadi duduk diam tanpa pembicaraan,
Mungkinkah lebaran bisa kita lakukan setiap pertemuan,
Mohon maaf lahir dan bathin terucapkan,
Menghapus dosa serta kesalahan,
Dipintu ini semua ditentukan,

(firanda(.....)Pontianak. 11:38 PM. 24 Oktober 2010)

"Saudara Mohan"

Firanda Anda pada 24 Oktober 2010 jam 23:14.

Dan waktu berangsur senja,
Seorang sahabat berpamitan pulang,
Dia tuan rumah penuh warna keakraban,
Terkenang aku bersamanya dimasa yang silam,


Senyum seorang kawan,
Bermula dari sebuah pertemuan,
Kita tak pernah melupakan rangkaian kejadian,
Suasana telah membawa tertawa sepanjang malam,


Kawan sekaligus sahabat,
Selamat jalan di alam kehidupan,
Bertarung memacu hidup menepis debu penjiwaan,
Disini aku mengingat senda gurau dimemori ingatan,

(Firanda(.....)Pontianak. 11:09 PM. 24 Oktober 2010)

Sabtu, 23 Oktober 2010

"Untukmu Waktu"

oleh Firanda Anda pada 24 Oktober 2010 jam 12:43
Catatan Anda telah dibuat
Matahari bersinar kembali,
Cahaya memenuhi alam mayapada,
Hawa hangat membuat berkeringat raga.
Perlahan aku membuka baju membuka aurat badan,


Angin sepoi-sepoi bertiup,
Jendela terbuka membawa dingin,
Segelas copi coba menyelesaikan pekerjaan,
Di laptop kecil ini aku bernyanyi riang,


Minggu yang membahagiakan,
Beban perasaan hilang tinggal menyelesaikan kewajiban,
Perlahan hari meninggalkan bermacam keinginan,
Disini bersandar di kursi depan meja dihadapkan,
Sesaat coba melupakan tragedi malam,

(firanda(.....)Pontianak. 12:38 PM,24 Oktober 2010)

"Pintu Menutup Cahaya"

Dan engkau yang membakar,
Api yang kau sulut menyala panas,
Tanah, air, api dan udara hangus tinggalkan gosong,
Sirnalah segala bentuk wujud yang kita banggakan didunia,

Arang 4 unsur telah diminum,
Menyatu dalam bentuk wacana,
Menjelmalah kehidupan atas nama nyawa,
Tersungkur bersujud semua cipta pada yang Mulia,

Ketika pintu tertutup,
Saat jiwa dibungkus jasad yang hina,
Buah asa menjelma perbuatan ternyata menghukum kita,
Merabalah dijalan tanpa cahaya ditengah debu jiwa menutup qolbu,

(firanda(…..)Pontianak. 5:07 PM. 23 Oktober 2010)

"Pelana Jiwa"

Langit nan biru,
Awan hitam bergelantungan,
Sepanjang jalan hanya debu-debu,
Berterbangan anai-anai mengejar pembakaran,

Laron itu hanya sebutan,
Nukilan gambaran manusia,
Setiap hari berburu api kehidupan,
Saatnya nanti terbakar hangus dalam renungan,

Kucoba mencuri cahaya,
Menampung sinar dalam bejana,
Mengait sumbu dengan seluruh jiwa,
Rohaniku bertahan padamkan nyala perapian,

Butir –butir tasbih berputar,
Berkeliling bagai roda pedati petani,
Keringat bercucuran bau amis seluruh badan,
Insan terbakar menghanguskan jasad yang bertuan,
Dan aku menunggu air zam-zam menyirami dari pelupuk mata,

Dengus nafas memburu,
Perhatian tanpa tahu yang dicari,
Pengetahuan hanya berdiri dibelakang,
Usaha –usaha menjejaki disamping diri meradang kerinduan,
Dan aku masih berbaring dalam jiwa dan duduk disajadah berlampu temaram,

(firanda(…..)Pontianak. 4:42 PM. 23 Oktober 2010)

Jumat, 22 Oktober 2010

"Bahagianya"

Firanda Anda pada 04 Oktober 2010 jam 15:28.

Suka aku kini,
Kepastian telah ditemui,
Penantian lama berakhir hari,
Moga kali ini berujung pasti,

Membuka buku,
Menghapal semua yang baku,
Coba menjawab menghilangkan ragu,
Tertera goresan dikertas bersampul biru,

Setiap do'a,
Semua pengharapan,
Terkabullah wahai tuhan,
Ini niatan mereka untuk kebaikan,
Langkah panjangku bersama yang ditindaskan,


(Firanda(......)Pontianak. 12:25 PM. 4 Oktober 2010)

"Tangan Atau Kaki " Panglima

Firanda Anda pada 05 Oktober 2010 jam 13:02

Alkisah,
Pada sebuah negeri yang bernama Kerajaan Tanah Kayangan dipim[pin seorang raja yang bijaksana, raja yang mempunyai ilmu pengetahuan ,hukum dan penyebar agama, tempat para raja2, bangsawan dan rakyat menimba ilmu pengetahuan. Dari wilayah kerajaan Tanah Kayangan banyak dilahirkan pahlwan-pahlawan yang bijaksana,gagah berani berhati mulia. Hidup seorang pahlawan disebuah kerajaan, ia bernama Gusti Wadai, sebuah julukan yang disebabkan oleh kesenangannya terhadap jajanan kampung yang dibuat oleh rakyat biasa, dengan gada serta pedang ditangan turun bertempur di setiap medan perang, Membela kerajaan dan rakyat kecil yang tertindas, tidak perduli siapa lawan sepanjang kebenaran ada ditangannya, ia terus melawan, baik sendirian maupun dengan segenap kompi pasukannya.

Kompi pasukannya bernama”Kompi Elang Besi”, salah satu pasukan yang sangat dibanggakan oleh raja dan rakyat kerajaan Tanah Kayangan’ pasukan dengan cirri Tato gambar elang di tiap bahu sebelah kanan sebgai cirri khas pasukan, kemampuan pasukan ini mampu bergerak cepat laksana elang, baik dimedan perang maupun perburuan mata-mata yang coba mensabotase fasilitas kerajaaan maupun kerusuhan yang mengganggu stabilitas rakyat kerajaan tanah kayangan. Sudah berapa kali pasukannya yang dimpin telah memukul mundur para “Lanon” yang memasuki daerah, Berkapal-kapal lanon dipukul mundur, hanya dengan berjalan kaki serta berlari pasukan ini melewati kampung-kampung serta hutan belantara menghadang setiap penyerbu memasuki wilayah darat negeri Kerajaan Tanah Kayangan.

Dan pada peperangan melawan VOC belanda, diujung semenanjung kerajaan Tanah Kayangan terjadi peperangan yang hebat, jumlah pasukan yang berimbang namun persenjataan yang tidak berimbang, VOC dengan meriam serta bedil dibantu oleh para penghianat dari bangsa sendiri sedangkan Pasukan elang besi hanya bersenjatakan gada, pedang, sumpit dan panah, maka peperangan yang dilakukan sangat tidak berimbang, pasukan elang besi mengalami kekalahan perang disiang hari, banyak yang terluka.

Panglima Wadai akhirnya menyimpulkan, menggunkan taktik “Burung Hantu” menyerang musuh pada malam hari ditengah keterbatasan penglihatan musuk dan medan akan mampu memukul musuh, maka rencana tersebut dijalankan, pada malam yang gelap seratus pasukan elang besi ditambah pasukan tombak mereka merayap seperti semut mendekai musuk di ujung semanjung, ketika tengan malam mulailah penyerbuan terhadap musuh, musuh yang kelelahan dan tak biasa bertempur malam akhirnya kewalahan, Voc pun akhirnya mengundurkan diri, bersama semua pasukannya dan anak buahnya melarikan diri menggunakan kapal dari wilayah Tanah Kayangan.

Namun, Panglima wadai terluka parah, kaki dan tangannya cidera parah oleh hantaman peluru VOC, setelah sampai di Rumah panglima seluruh pasukan beristirahat, makan dan minum untuk membuang rasa lapar akibat peperangan tersebut, sebagian pasukan berjaga dan sebagian tertidur pulas, didalam bilik sang pnglima, beberapa dukun (Perawat Kesehatan)menyakan kepada panglima;
Dukun: Wahai panglima. Tangan dan kaki tuan mendapatkan cidera yang parah, semua akibat senjata musuh tuanku, jalan satu-satunya adalah pemotongan bagian tubuh tuanku, tangan atau kaki, ini dilakukan secara terpaksa tuanku agar tuanku cepat sembuh, jika tidak maka racun akan memasuki tubuh tuanku dari dua arah, dari kaki dan tangan. Begitulah tuanku hasil pemeriksaan atas luka tuanku,.

Panglima: Begitukan keadaanku yang sebenarnya wahai Dukun, “sambil memadang sidukun itu, dan dukun mengangguk sambil menundukkan pandangan. Berkata lirih yang panglima”Inilah hadiah yang harus kuterima dengan iklas atas tubuh ini yang terbang di atas kerajaan Tanah Kayangan” Panglima” Menurutmu wahai sang dukun, yang mana lebih baik potong tangan atau kakiku ini” Tannya sang panglima dengan ragu, sidukun menjawab”Terserah Tuanku panglima yang mana lebih baik tangan atau kaki”jawab sidukun, Panglima itu berfikir, jika aku potong tanganku maka aku tak bisa berbuat sesuatu untuk negeriku, hanya dengan tangan aku bisa membuat senjata, mengasah pedang, menulis untuk para pejuang , menulis kabar negeri ini, sedangkan apa bila kupotong kakiku, maka makan pun harus disuapkan, aku hanya bisa berjalan berteriak-teriak mengucap, aduh…semua ada kelebihan dan kekurangan.biarlah-biarlah…kuputuskan.

Panglima” Wahai Dukun potonglah kakiku saja” sambil berlinang air mata untuk sebuah keputusan yang hampir merenggut nyawa dan cita-cita panglima terdiam memejam mata, terdengar jeritnya saat kakinya terpotong, Hingga tanp sadar ia tertidur dan bermimpi tangannya menari di atas kertas dari kayu menulis sejarah negeri, Tanah Kayangan dalam membela harga diri dan kebebasan dari penindasan.

Dalam bayangannya berharap akan ada generasi yang akan mampu berjuangan secara sendiri atau kelompok membela negeri, kemanusiaan, harga diri, martabat, sebuah keyakinan akhirnya akan membawa keiklasan atas konsekwensi yang akan didapat baik atau buruknya, kita bisa tersenyum akan sesuatu hal yang dilakukan pada sebuah nilai kebenaran…

(Sedang coba2 bercerita dalam cerita yang sederhana, maaf jika bahasa atau alurnya kurang pas...He3, nama juga pemula, Kritik saran masukkan di inbox aja)
(Firanda(....)Pontianak. 12:44 PM. 5 Oktober 2010

"Merpati"

Firanda Anda pada 05 Oktober 2010 jam 15:02.

Dia wanita yang terbilang rupawan, bisa dianggap seperti burung merpati, indah bulunyanya berwarna warni, terbangnya rendah sekali sangat akrab dengan masyarakat disekelinginya, menawan dibilang sebagian orang, setiap hari saat ketika melihatnya pandangan kita akan tertegun ,terpana terlalu asik menatap utuh segala tingkah polah dan keindahan yang melekat pada dirinya.
Konon merpati ini menjadi pembicaraan sebagian orang, berita tersebut terkadang didapat melalui sms, fece book dan obrolan cetingan, bahkan yang lebih agak mistis kabar dibawa angin atau rembulan yang bercerita pada malam kala sunyi kehidupan manusia, begitulah berita merpati ini terdengar oleh telingaku.

Konon ceritanya merpati ini, ketika sekolah masa SMAnya lucu-lucu yang dilakukan, maklum merpati yang baru terbang dari sarang dengan bebas dari jangkauan kedua orang tuanya, namun terbangnya hanya seputaran sekalohan saja, namun lumayan mampu membawa cerita yang membuat kita terbawa tertawa, misalnya saja bercanda waktu pelajaran, dimarahai guru karena tidak membuat PR sekolahan, atau terbang di pohon bergelantungan, padahal dia ini seorang dara….

Ketika merpati ini merasakan ada sesuatu di hati dan perasaannya, sesuatu yang beda, yang tak terfikirkan, belum pernah dirasakan, sesuatu keinginan dan harapan untuk suka dengan seseorang …ya seorang teman yang tak biasa, seoarang pria, merpati termenung menatap pria itu, entah mengapa dia selalu suka memandang pria itu bicara, berjalan, tertawa, pokoknya suka yang beda, teruslah dan terus berfikir.

Namun tanpa diketahui, ada orang lain yang memperhatikannya, tanpa disadarinya orang tersebut terus mendekati, mengajaknya bercanda dan tertawa, namun perhatian seseorang ini belum mampu menggugah dan mengalihkan perhatian sang dara sang merpati muda, kian lama akhirnya pemuda ini lelah juga walau tidak menyerah, mengundur ia perlahan disertai memandang sang merpati mudah dari kejauhan, mengamati dengan perasaan.

Berkatalah pemuda ini” Merpati ini terlalu jinak untuk didekati, terlalu sulit untuk dimiliki, ini bukan berkenaan dengan barang tapi persoalan hati dan rasa yang dimiliki, sebuah kesesuaiyan diantara perbedaan, menyentuh perasaan dengan perasaan juga, kelembutan disentuh keiklasan, akhirnya sadarlah waktu dan kesempatan belum di tangan.

Pada akhirnya sang merpati masih terbang bebas walau di dalam hati masih tersimpan harapan yang belum ketemu, belum mendapat jawaban, terbang tinggi dan rendah sudah tak ada arti baginya, hari-harinya bercengkrama dan membersihkan bulu indah tempat cahaya memantulkan cahaya kemilaunya, sejenak berfikir merpati” Mungkin kelak aku bernasib baik” ujarnya dalam hati.


(firanda(......)Pontianak. 2:35 PM. 5 Oktober 2010)

"Tetap Menguning"

Firanda Anda pada 05 Oktober 2010 jam 15:35

Kubaca berita,
Terpegang surat kabar,
Berurut membaca peristiwa,
Nasib anak negeri membuat kita sadar,


Berkerut kening,
Mata terlihat tajam.
fakta lugas diceritakan,
Bahagia dan duka tergambarkan,


Macam apapun negeri ini,
Berharap aku padi tetap menguning,
Panen dilakukan walau hanya untuk dimakan,
Biarlah angin, api, air dan tanah mengamuk dipermukaan,
Garuda serta merah putih tetap berkibar dinusantara,


(firanda(........)Pontianak. 3:26 PM. 5 Oktober 2010)

"Masihkah bersembunyi"

Firanda Anda pada 05 Oktober 2010 jam 17:42.

Aku sering bertanya,
Kadang menduga-duga,
Mereka sering berganti nama,
Seolah tak percaya atau bersembunyi dari apa,


Ku telusuri jejak fhotonya,
Namun semua berganti rupa,
Akhirnya menanti hari menemukan dia,
Terkadang lelah mata menatap kaca,


Ini Privasi,
Hak dirimu pribadi,
Ada teman bisa kau kunjungi,
Berilah tanda biar aku mengerti,


(firanda(......)Pontianak. 3:51 PM. 5 Oktober 2010)

"Ku Ingin Kau Tahu"

Firanda Anda pada 05 Oktober 2010 jam 20:14.

Dia hanya dia kudamba,
Dia yang selalu kufikirkan,
Dia mampu menggoda mimpi-mimpi,
Ku ingin tahu hatiku saja, benarkah cinta,

Mungkin hanya dia, Indahnya berwarna,
Rupa terindukan, kungin dia terakhir dikehidupan,
Tak pernah ada lain, tak luput engkau dari mata,
Bahagia belaianya, Sejukkan hati membara,

Kuingin kau disisiku, ku ingin engkau dijiwaku,
Dalam hatiku ada dirimu, Adakah celah di hatimu,
Adakah luluhkan hatimu, Walau kuserahkan semua diriku,
Masihkah kasih sayang itu, Perasaanmu yang tersimpan di dalam,

(firanda(.......) Pontianak. 7:31 PM. 5 Oktober 2010)

"Inilah Separuh Jiwa"

Firanda Anda pada 05 Oktober 2010 jam 20:11.

Separuh jiwaku, bahagiaku kau bawa,
Nyata cinta, Rindu menggelora,
Kekasihku , Sayangmu,
Tak pernah ada, tak ada lainnya,


Inilah hati, Inilah jiwa,
Bukan hanya sekedar kata, bukan hanya tulisan biasa,
Kuingin kau tahu, Ingin kau rasakan,
Nikmati sejuknya keinginan, Nikmati panas harapan,


Aku disini berjalan, kutatap rembulan,
Berbinar perasaan, Rasa penuh kedamaian,
Saat ragu membentang, Malam telah memberi pencerahan,
Ku ikat sekuntum kembang, Ku bertemankan sekuntum bunga keindahan,

oh indahnya hati...bertebaran bunga keiklasan....tumbuh ditaman surga.

(firanda(.....) Pontianak. 7:58 PM. 5 Oktober 2010)

"Sekian Lama"

Firanda Anda pada 05 Oktober 2010 jam 21:01.

meskinya engaku tahu, cinta seluas samudra,
Harusnya engkau tahu, kasih sayang selebar jagat raya,
Berharap engkau tahu, Rindu itu mengisi setiap benda bernyawa,
Pastikan engkau tahu, Inilah curahan hati bercampur cahaya,


Sekian lama aku menanti, Bukankah kita berjumpa disini,
Sekian lama aku menunggu, bukankah kau datang akan kutunggu,
Sekian lama aku menapaki, Bukankankah kau kembali untuk bertemu kembali,
Sekian lama aku berharap, Bukankah dirimu tempat curahan hati sepanjang hari,

Wahai rembulan, Wahai matahari,
Kepada angin, kepada awan,
Sampaikan salam, Kabarkan ungkapan,
Kepegang dada, kurasakan denyut jantung,
oooooooh.....rasa...rasa sayang ini.....................................................

(Firanda(.....)Pontianak. 8:43 PM. 5 Oktober 2010)

'Kuterjaga"

Firanda Anda pada 06 Oktober 2010 jam 2:08.

Kuterbangun dikegelapan,
Terjaga oleh panggilan halus perasaan,
Suara lembutmu menyentuh pilar mimpi panjang,
Mengusap mata ternyata aku berbaring sendirian,


Kukatakan sayang,
Terdengar sendu sepi malam,
Lirih hati untuk membayangkan,
Terlalu jauh engkau disampingku sekarang,


Saat tidur kuberdo'a,
Ya Allah yang mempunyai cinta,
Sisihkanlah jiwanya untukku didunia,
Biarkan aku mengabdi padaMU bersama dia,

(Firanda(.....)Pontianak. 2:04 AM, 6 Oktober 2010)

"Ku Tetap Setia"

Firanda Anda pada 06 Oktober 2010 jam 18:51.

Aku tak bisa menyakitimu, aku tak mungkin mendua,
Aku hanya ingin setia, Cinta ingin kujaga,
Kupelihara rasa, kupupuk rasa,
Aku pria, dia wanita,
Kasih milikku, Sayang miliknya,



Aku telah berjanji, berdua menyatukan hati,
Sulit bagi berpaling, Mengerling yang lain,
Sakit jika dikhianati, Akan terasa perih dipipi,
Perasaan Jiwaku, Perasaan jiwamu,



Ku tetap setia,
Ku buat janji bercahaya,
Ku catat setiap dinding asa,
Ku serahkan nukilan dalam untaian kata,



(Firanda(...)Pontianak. 4:34 PM. 6 Oktober 2010)

"Selamat jalan Agung"

Firanda Anda pada 06 Oktober 2010 jam 20:56.

Masa indah bersama,
Hari penuh suka cita dirumah tua,
Berkelakar apa saja bisa membuat tertawa,
Jerit, marah, sentilan memberi warna keluarga,

Kini nafas tertidur,
Jiwa kembali padaNYA,
Pucat berseri jasadmu mengembara,
Lirih bathin memanggilmu adikku sayang,


Akan kukenang adikku,
Iklas kami melepasmu pulang,
Dalam hati kami berdo'a ada kebahagiaan,
Mengantarmu dipintu kemuliaan,

(Firanda(.....)Pontianak. 7:14 PM. 6 Oktober 2010)

"Oh Jiwaku"

Firanda Anda pada 06 Oktober 2010 jam 19:53.

Mengingatmu wahai jiwa,
Terbungkus jasad penuh warna,
Berselimutkan bermacam bau rasa,
Terkungkung segumpal tanah yang bernyawa,


Begitu kejamnya diriku,
Menyiksamu tanpa kurasa,
Menutupi rasa cintamu pada pencipta,
Kadang aku menangis pilu menutupi dosa,


Oh jiwa dalam raga,
Kumuliakan engkau dengan rasa,
Memanggil kasih sayang sebagai penjiwaan,
Menyerahkan badan dan fikiran ikut bersujud kepada Tuhan,

(firanda(.....)Pontianak. 7:38 PM. 6 Oktober 2010)

"Kutulis Pesan"

Firanda Anda pada 06 Oktober 2010 jam 20:58,

Kata kematian,
Perpisahan kehidupan,
Adakah kebahagiaan atau kesusahan,
Dera serta bilur dunia terkadang menyesatkan,


Kuraba bathin ini,
Menyusuri ilogikaku,
Iklaskah jadi tanda tanya,
Kepasrahan tumpuan adanya,


Kutulis pesan,
Kusimpan dalam catatan,
Berjumlah hurup dosa dilakukan,
Akhir hayat buku kubawa berbaring, tinggalkan zaman,

(firanda(....)Pontianak. 8:18 PM. 6 Oktober 2010)

"DIA BERCERITA"

oleh Firanda Anda pada 06 Oktober 2010 jam 22:10
Jasadnya letih oleh benturan peradaban, raga tertiup oleh debu peradaban tak bergerak dari penindasan dan intimidasi yang menyesakkan, nafasnya tersengal-sengal menghirup udara membawa butiran debu pergulatan antara manusia dan mesin.
Mungkin sudah renta atau karena jasadnya sudah tak berdaya, mungkin juga makan sekarang telah bercampur zat kimia, kini tulang belulang telah menjadi rapuh, sementara kulit berkerut bersama debu jalanan yang terbang di udara kota, Hampir diyakini setiap langkah kaki yang digerakkannya penuh perjuangan, semangat dan kemauan cukup tinggi, tak berdaya.


Otot-otot yang dulu mampu menahan dan memikul beban cukup berat kini hanya beberapa kilo saja terangkat pundak yang renta, Keriput dipundak bekas saluran keringat mengungkapkan catatan perjuangan, sejarah perjalanan naik dan turun peradaban, memahami pergantian pimpinan dengan logika kesederhanaan, rakyat kecil diluar garis kekuasaan bahkan harta dan tahta.
Matanya terlihat rabun, tampak sudah tak putih lagi seperti kaca, akan menyilaukan tertimpa cahaya, ada warna kekuningan begitu terlihat, kata dokter katarak, katanya ini bukti bahwa saya telah tua renta, Ini mata yang memandang perubahan dari generasi ke generasi berikutnya di negeri ini, Mata ini yang berkata tanpa harus bicara”ujarnya.


Telingaku katanya, menjadi saksi bahayanya fitnah dan kabar bahagia, dengan telinga renta ini mendengar hiruk pikuk peradaban, gonjang ganjing kehidupan, banyak hal yang didengar baik itu rahasia maupun hanya bumbu cerita. Memanglah si telinga, banyak hal yang didapatnya membantu situa renta menjalani hidup.


Kini giginya sudah tak, Gigitan sudah tak sekuat dulu, tidak mempuni lagi, kurang taringnya, Terkadang ia berseloroh bahwa panggang ayam yang tersaji sangat menyingung perasaan bahkan terkesan menghina, Inilah kenyataan yang dihadapi, seekor ayam goring telah berani menghina si orang tua, Terkenang dulu masa mudanya, Panggang ayam goring di pinggan tak bisa bergerak lagi dihadapannya.


Merenunglah ia, sadarlah ia, yakinlah ia, kini usia telah lanjut senja, menanti panggilan pencipta, hari-harinya mengurangi bicara, melihat yang tak pantas menurut agama dan banyak bekerja semampunya, Inilah cara menampik dosa, hanya dengan merenungi usia dia menjadi amat sangat dewasa, Inilah penglihatan yang ditunjukkan kepada yang muda….kita yang menuju ketua.

(Firanda(…..) Pontianak, 9:45 PM. 6 Oktober 2010)

"Kisah Sang Dara"

oleh Firanda Anda pada 06 Oktober 2010 jam 22:47
Dia sekumtum bunga yang mekar saat pagi ketika surya terbit membawa angin kesejukkan, begitu indah warna kelopak bunga yang menawan, diantara kelopaknya masih tersisa embun pagi bagaikan mutiara, berkilau saat tertimpa cahaya, matanya berbinar menyaksikan keadaan di sekelilingnya, bermacam rasa mengaduk fikiran dan perasaan.

Diperhatikannya pemandangan yang tersaji di hadapannya, penuh warna warni, antara terang dan gelap, semua menimbulkan minat yang tak terlukiskan, dia hanya membisu diam, terkadang sekali-kali menoleh kekanan dan kekiri, memandang untuk memuaskan perasaan, mengetahui hakekat yang di pandang.

Setelah terpuaskan pandangannya, berfikirlah ia serta member nama kemudian mereka-reka apa sebenarnya, bertanya ia dalam hati, diamati setiap gerak, setiap kata, setiap perubahan yang terjadi berdasarkan waktu, kondisi alam, keadaan cuaca, Memuaskan rasa ingin tahu, Si bunga masih mengamati dan terus berfikir.

Matahari kemudian menampakkan jati dirinya, panas cahaya mampu membakar tanah, daun, ranting, pohon. Tahulah dia cahaya ini yang telah memberi kehidupan bisa juga menyebabkan kematian, terlihat disekelilingnya merasakan kegerahan, kegelisahan dengan cara serta rupa yang berbeda, aku tahu setengah saja, tidak semuanya, masih ada rahasia, masih banyak tersembunyi, terus saja si bunga memperhatikan dan mendengar.

Kala senja akan tiba, Si bunga tersenyum riang, kini dia tahu kehidupan saat dia telah merasakan begitu indah dan nyata kehidupan ini, aku dengan rasa suka cita, penuh gairah tiada tara, mekarnya akan dikuncupkan untuk menikmati malam penuh kenangan, mimpi-mimpi panjang, harapan dan cita-cita, semoga saja hari pertama mekar membuat mekar esok penuh makna, sebagaimana mestinya makna.

Kisah sang dara…17 tahun menyentuh rasa…merasakan nikmatnya dunia……

(Firanda(……)Pontianak. 10:36 PM. 6 Oktober 2010)

"Selamat Pagi Matahari"

oleh Firanda Anda pada 07 Oktober 2010 jam 0:07

Ini cerita malam, saat kita terbangun dari tidur, baik sedang bermimpi maupun tidak, terbangun diantara bantal, guling, selimut dan ruangan yang berlampu temaram, sedikit saja pandangan terasa samar, kegelapan menyelimuti terkadang, ini sebab kita sering mematikan lampu saat tertidur, tapi biarlah yang terpenting terjaga baik ada sebab maupun tidak ada sebab.

Pertama terbangun mengusap mata, kemudian melihat cahaya, lampu yang bersinar baik oleh lampu kamar, lampu tetangga atau cahay bulan yang menerobos ruang kamar, perlahan meregangkan tubuh yang tertidur untuk mengendurkan urat-urat dan tulang belikat, nyaman terasa agar jiwa dan jasad bersama tersadar bahwa kehidupan masih ada ditubuh yang terjaga. Perlahan beringsut ketepian tilam, menggapai lantai kemudian berdiri memperhatikan keadaan, ternyata kita sendiria, berduaan, atau ramai tiada terbilang, lagu sunyi di tengah malam diringi jangkrit atau angin bertiup menyentuh dedaunan membuat pohon-pohon menari riang di tengah lelapnya manusia terbujur akibat perjudian siang.

Derai air diperdengarkan dengan santai, gemericik air menyentuh permukaan lantai atau wadah yang telah di persiapkan menampung air, indah terdengar nyaring di telinga disepi malam, ruang kosong, sunyi, terasa damai di telinga yang masih kotor oleh debu maupun kata yang tak pantas di dengar siang tadi. Detik jarum jam berdenting perlahan mendengarkan suaranya.

Perlahan terduduk kita di tikar tua yang menemani sepanjang waktu sepanjang hari setia, tanpa sadar kita mendapatkan teman yang lama dilupakan bersama butiran tasbih berputar ditangan melawan kantuk menyerang mata di hadapan kawan setia ini, Pagi menjelang, surya menampakkan wajahnya, senyumnya menyentuh permukaan bumi, geliat kehidupan dimulai, nafas –nafas segar keluar dari hidung yang memburu kehidupan, selamat pagi matahari, selamat pagi surya, selamat pagi semua…..


(Firanda(……)Pontianak. 11:39 PM. 6 Oktober 2010)

"Mata Berbinar"

Firanda Anda pada 07 Oktober 2010 jam 0:39.

Kini telah larut malam,
Udara dingin menyejukkan,
Kantukmu juga belum berpulang,
Bulan dilangit kelihatan sepotong menggaris awan,


Wahai kuasa kehidupan,
Dewa-dewi mimpi dipembaringan,
Bujuk serta rayulah dia memejamkan pandangan,
Dan esok ia melihat matahari yang didambakan,


Tidurlah wahai mata tak terpejam,
Damaikan gejolak perasaan,
Baringkan logika pada asa,
Menghantarmu mengenang rindu pada surya,
Cahaya menyinari bola mata,

(firanda(....)Pontianak. 12:29 AM. 7 Oktober 2010)

"Mata Berbinar"

Firanda Anda pada 07 Oktober 2010 jam 0:39.

Kini telah larut malam,
Udara dingin menyejukkan,
Kantukmu juga belum berpulang,
Bulan dilangit kelihatan sepotong menggaris awan,


Wahai kuasa kehidupan,
Dewa-dewi mimpi dipembaringan,
Bujuk serta rayulah dia memejamkan pandangan,
Dan esok ia melihat matahari yang didambakan,


Tidurlah wahai mata tak terpejam,
Damaikan gejolak perasaan,
Baringkan logika pada asa,
Menghantarmu mengenang rindu pada surya,
Cahaya menyinari bola mata,

(firanda(....)Pontianak. 12:29 AM. 7 Oktober 2010)

"Leliput dan Rahwana"

Firanda Anda pada 07 Oktober 2010 jam 17:58

Sore ini aku meminum obat,
Vitamin logika dan gairah jiwa,
Cerita tentang sengsara rakyat jelata,
Hatiku berdesis oleh kisah kelabu si orang tua,


Terpenjara orang kampung kita,
Saudara yang tanah dirampas begitu saja,
Marah telah diujung kepala tiada tara,
Membaralah api cam disana,

Mereka rakyat kita,
Perusahaan memancing bara,
Tersulutlah tangan menyala,
Terpenjara dia oleh rahwana,

(firanda(....)Pontianak>5:57 PM. 7 Oktober 2010)

"Menanti Reda"

Firanda Anda pada 07 Oktober 2010 jam 19:18.

Hujan begitu lebat,
Kotaku semakin basah,
Hawa dingin menutup siang,
Masih juga menanti reda untuk pulang,


Akankah dia kedinginan,
Hujan tentu membuat sakit badan,
Mungkin engkau dalam kegelisahan,
Menanti reda semoga langit bercahaya bulan,


(Firanda(......) Pontianak. 7:08 PM. 7 Oktober 2010)

"Kukirim Nafas Dalam"

oleh Firanda Anda pada 08 Oktober 2010 jam 5:27

Hati masih berharap padamu, Suara kunyanyikan lagu,
Aku masih menunggunya, Walau esok kutetap disini,
Menanti seperti pagi, Berharap cahaya matahari,
Seolah malam, Menatap bulan,


Kukirim nafas udara dalam, Mengantar jiwa yang dirasakan,
Pujaan hati di qolbu, Pujaan hati dirindukan,
Hai kekasih , Hai sayang,
Pandanglah, Lihatlah,

Selalu ada senyum, selalu ada cinta,
Disini ada bahagia, Disini ada bunga,
Separuh jiwa, Sepenuh rasa,
Aku dan dirimu, Kita ada berdua,


(Firanda(...)Pontianak. 4:59 AM. 8 Oktober 2010)

"Denting Hatiku"

oleh Firanda Anda pada 08 Oktober 2010 jam 5:39
Mendengar suaramu, Terdengar merdu,
Halus menyentuh jiwa, Tersusun sangat sempurna,
Semoga tercipta lagu, Keindahan membuat rindu,
Suka aku itu, Tutur mu itu,


Aku tak sanggup, Aku tak tahan,
Untuk cintamu, Untuk cintaku,
Kupinta padamu, Kuingin padamu,
Bersama mengukir cerita, bersama dikehidupan,


Aku tanpa mu, Aku jauh darimu,
Disini menunggu, Disini menanti,
Mana suaramu, Mana senyum itu,
Denting hatiku, Qolbu merindu,
Padanya, Hanya dia,

(firanda(.....)Pontianak. 5:33 AM, 8 Oktober 2010)

"MENYALA DIBARAT DAN MEMBARA DITIMUR'

Firanda Anda pada 08 Oktober 2010 jam 23:30
Tanah kini berwarna hitam, Cucuran keringat membasahi bumi,
Kulit penuh daki debu jalanan, Mulut mereka sangat berbau,
Beban yang ditinggalkan, Persoalan mengambang dilautan,
Suatu hari semak terbakar, Kini kering jiwa terhampar,


Kini bukan digunung, Ditepian pantai orang kesepian,
Perlahan tanah hilang, Pasir berubah lautan,
Hutan lenyap sudah, Binatangpun migrasi keselatan,
Air tak putih lagi, Lumpur memasuki sungai,


Tinggallah negara, Pergilah pemerintahan,
Rakyat terkapar, Penjabatpun tak sadar,
Tangis mereka, Marah mereka,
Kini membara, Kini menyala,
Membakar dari barat, Menyala di timur,

(firanda(....)Pontianak. 11:18 PM. 8 Oktober 2010)

"Masih Teringat Wajahmu"

oleh Firanda Anda pada 09 Oktober 2010 jam 11:52
Beribu kata maaf, Tak pernah dirimu terima,
Beribu penyesalan, Tak pernah dirimu gubris,
Beribu permohonan, Tak pernah dirimu tanggapi,
Saat aku dalam kesunyian, Sepi hampa tanpa dirimu,


Masih teringat wajahmu, Mengingat kenangan yang lalu,
Adah kesempatan untuk diriku, Mungkin semua telah berbeda,
Yakin ku engkau ada cinta, Menciptakan Perasaan Kerinduan,
Mengapa harus malu, Ego yang terlalu,


Aku disini, Tetap menanti,
Engkau disana, Mungkin kita bersama,
Tak selama langit mendung, Tak selamanya malam tak berbintang,
Hujan bawalah pelangi, Hujan sirami tanah yang gersang,


(firanda(…..)Pontianak. 11:20 AM. 9 Oktober 2010)

"Apa Kabar Pujaan Hatiku"

oleh Firanda Anda pada 09 Oktober 2010 jam 20:17
Selaksa do'a, meletkkan tangan diatas kepala,
kuingin menyapa, hati tertahan senyuman,
Telanjangi rasa, Perasaan menggila,
Obrolan cinta dimeja makan, Antar kita pada alam mimpi,


Setiap detik ada yang sedih, Setiap menit selalu merana,
Dengarkan hati berbicara, Lihatlah mata coba mengatakan,
Tak sanggup berpisah, Tak mampu menyakiti,
Untukmu aku setia, Untukmu aku cinta,


Aku hargai dirimu, Aku hormati ketulusanmu,
Rindu bertabur bulan, Kenangan menggantung Bintang,
Mencoba berlari sunyi , Mencoba Menyusuri menutup jalan,
Letih Berhenti berpetualang, Aku ingin pulang,

Kembali pada jiwa, meminum air nirwana,

(firanda(....)Pontianak. 7:58 PM. 9 Oktober 2010)

"Oh Inilah Indahnya"

"Oh Inikah Indahnya"
oleh Firanda Anda pada 09 Oktober 2010 jam 20:37
Sayangku dengarlah suaraku ini,
Simaklah kata-kata terucap bibir dari hati,
Bahasa jiwa dan rasa kerinduan seminggu,
Berpisah oleh sibuk hari memukul qolbu,



Seribu sesal waktu menyapa,
Perih rasa kala tersenyum padamu,
Pernah kusembunyi namun tidak kuasa,
Oh inikah indahnya saat berdua,


Jangan kau tanya cinta, peganglah dadaku,
Lihatlah cahaya mata, Ini pantulan jiwa,
Sungguh membuat terlena, hasratku kian membara,
Peganglah tanganku , Kasih Kutak ingin melepaskan,


(firanda(.....)Pontianak.

Kamis, 21 Oktober 2010

"Peluklah Tubuh Ini"

oleh Firanda Anda pada 09 Oktober 2010 jam 21:13.


Terdengar lagumu, Musik yang disuka,
Terlantun bermakna, Berhembus angin malam,
Bawalah sadarku, rasuki logikaku,
Peluklah tubuh ini, Rebahkan mimpi-mimpi,



Terbanglah khayalku, Ingin bersamamu,
Berdua saja, satukan rasa,
Seribu kata menggoda, Seribu bahasa merayu,
Membelai sayang, Menyentuh kasih,



Denting perlahan syahdu, Selalu merayapi qolbu,
Rindu mengiris hati, teresapi menyepi,
Wahai pemilik Nama, Pencipta 100 cinta,
Sandingkan adam hawa, Buailah kami asmara,

(firanda(.....)Pontianak. 9:06 PM. 9 Oktober 2010)

(Kurendam Cinta)

oleh Firanda Anda pada 09 Oktober 2010 jam 21:39.

Ku datang, engkau diam,
Cuek tak perduli, Kini terpancing hati,
Bertamu tak akan bosan, Walau hanya sekedar memandang,
Merah cara berpakaian, terlihat tubuhmu kurusan,


Ku diam menatapmu, rasa bergetaran,
Rindu bersuara lirih, Tertunduk wajah kelam,
Hati bahagia, Senyummu ceria,
terimakasih sayang, ku lihat wajah membayang,


Kusentuh tangamu, Memegang jari itu,
Kucatat 1000 puisi, Memerahkah jiwa kini,
lalu terangkat kerinduan, terpuaskan api asmara.
Merendamkan cinta, Halus kulit menggetarkan rasa,

(firanda(......) Pontianak. 9:31 PM. 9 Oktober 2010)

"Duduk dan Semeja"

oleh Firanda Anda pada 10 Oktober 2010 jam 13:13.

Duduk berdua satu meja,
Bicara tetang nilai tertinggi manusia,
Kedaulatan atau kemandirian menyata,
Bertahan menghadapi roda penindasan serta kebutuhan,


Realita saja, dunia berdimensi dusta,
Ini bukan pilihan, Namun kesadaran kolektif semua,
Antara miskin dan kaya, Pintar dan tidak pintar,
Yang punya peluang dan tidak punya peluang,

Hati nurani berbisik,
Kesadaranpun terhimpit,
Garam dilutan terasa pahit,
Air tawar pegunungan tercekik,


Putaran kehidupan,
Langkah mencari hakekat bertahan,
Melindungi kemanusiaan didebu peradaban,
Membersihkan kaca hati setiap perjamuan kawan,


(firanda(........)Pontianak. 1:05 PM. 10 Oktober 2010)

"Mengurai Imitasi"

oleh Firanda Anda pada 10 Oktober 2010 jam 13:48.

Membongkar logika,
Mengungkap kepalsuan,
Mengurai bentuk-bentuk imitasi,
Berlari dari pijakkan yang rapuh,


Berbicara,
Menyusuri fakta,
Mencari kiasan legenda,
Meniup mendung diangkasa,


Kupahami penyakit kita,
Dosa-dosa tersembunyi dari manusia,
Menilik gerahnya peradaban menuju kebaikan,
Nyala pelita tumbuh dimana-mana pada negeri persada,

(firanda(....)Pontianak. 1:44 PM. 10 Oktober 2010)

"Kembali Membaca"

oleh Firanda Anda pada 10 Oktober 2010 jam 14:18
Kita segumpal darah,
Jasad beraga berselimut tanah,
Bau tubuh terasa familiar dikehidupan,
Fikiran menjernihkan realita dan kebenaran,


Para jiwa,
Emas dan imitasi dunia,
Jalan berkelok-kelok dimata,
Lurusnya hanya cita-cita coba diwujudkan nyata,


Kembali membaca,
Kiranya menulis makna,
Menghaluskan budi dan kata,
Prinsip mencoba jalani kehidupan mulia,


(firanda(....)Pontianak. 2:05 PM. 10 Oktober 2010)

"Hanyalah Dia"

Firanda Anda pada 10 Oktober 2010 jam 14:49.

Mungkinkah kau tahu isi hati dan qolbu,
Indahnya duduk bersamamu,
Kaulah terakhir bagiku,
Tak pernah ada,


Selalu aku memikirkan dia,
Inilah paling terindah,
Imajinasi bercerita,
Denyut nadi terasa,


Benar hanyalah dia,
Memang haus merindukannya,
Kuingin kau berada disisiku saja,
Bertemu karena cinta ada pada kita,

(firanda(....)Pontianak. 2:39 PM. 10 Oktober 2010)

"Dosa Pertama"

Firanda Anda pada 11 Oktober 2010 jam 0:27.

Namamu indah menyentuh rasa dijiwa
Bathinku berkata sayang tak terkira,
Melingkar tasbih berputar nama,
Kekasih hati seorang wanita,
Impian renungan malam,


Inilah dosa pertama menyebut nama cinta,
Bayangan wanita pelipur mata,
Saat memuja terselip dia,
DIA dan dia disajada,



NAMA MAHA MULIA.
DIA Maha Pengasih Penyayang.
Untaian kata menjelma perasaan,
Goresan hanya sebagian kabar kehidupan,


(firanda(.....)Pontianak. 12:19 AM,11 Oktober 2010)

"Panah Asmara"

oleh Firanda Anda pada 12 Oktober 2010 jam 19:39.

Engkau telah memanah jantungku,
Busur asmara telah kau gunakan,
Tertancap begitu dalam,
Tertahan nafas,
Terdiam.

Memenjarakan jiwaku,
mengikat qolbuku,
Jasad merintih tertahan,
Perasaan terlarut terkenang,


Ilmu ku kini mencari kebenaran logika,
Berbisik wajah manis tersayang,
Tahanlah hatimu wahai abang,
Dia menanti kerinduan,


(Firanda(......)Pontianak. 7:24 PM, 12 Oktober 2010)

"Bunga itu Telah Mekar"

oleh Firanda Anda pada 12 Oktober 2010 jam 23:53.

Sahabatku...Bunga itu telah mekar,
Harumnya wangi sekali...menebar,
Tertanam indah ditaman bunga,
Kapan kita bisa melihatnya,

Sekedar melukis atau memfhotonya,
kemudian kita buatkan kata-kata indah mempesona,
Semegah candi Brobudur kita membahasakan seluruh dunia,
Terlukis bagaikan relif yang berbaris didinding hati yang merasa,


Kawan...seandainya engkau tahu,
Memandangnya saja sudah mampu,
Tak tahan seluruh badan berpijak ditaman,
Luluh lantak semua rasa dikelopak yang berwarna,

(firanda(.....)Pontianak. 11:44 PM. 12 Oktober 2010)

"Setangkai Kemolekkan"

Firanda Anda pada 14 Oktober 2010 jam 0:06.

Setangkai bunga,
Bisakah dipetik tangan,
Disampul dengan seluruh jiwa,
Tersimpan agar tak layu keindahan,


Wahai tangan,
Lembutlah jikalau memegang,
Menyentuhnya dengan penuh perasaan,
Janganlah rusak sebelum dan sesudah dalam genggaman,


Sebuah kemolekkan,
Tertulis di hikayat kehidupan,
tertulis pada kertas bertinta ke emasan,
Mampukah duhai engkau memelihara titipan,
Seorang wanita telah memberikan keabadian,

(firanda(....)Pontianak. 12:33 AM. 13 Oktober 2010)

"Engkau Tiup Sangkakala"

Firanda Anda pada 14 Oktober 2010 jam 11:54.

Telah engkau tiup sangkakala,
Membangunkan jiwa yang tertidur,
Terjaga dari pulasnya kerinduan surga,
Kini saat kita semua menatap cahaya yang berbicara.


Itu Bukanlah cahaya,
Akulah yang menamakan diriNYA,
Wujud sempurna bukan dari apa didunia,
Biarlah DIA mengenalkan DIRI kepada kita,


Aku punya hak bertanya,
Terkadang tak mudah mendapat jawaban,
DIA asing yang ku usahakan mengenal sendirian,
Mau dan tidak mau hak prerogatif untuk berdampingan,

(firanda(....)Pontianak. 9:00PM.13 Oktober 2010)

"BERSEMAYAM'

Firanda Anda pada 14 Oktober 2010 jam 11:52.

terlihat tubuh yang hidup,
Mengalir darah disel-sel berhinggapan,
Air keluar dari lubang pori-pori,
Jiwa berbaju kokoh,
Tubuh ku dan MU,

Terbebas dia dari dosa,
Bersemayam menghidupkan,
Berjaga ditiang ke Ilahian,
Berkata dengan Tuhan,


Bukan cermin berhadapan,
Menyatu api dan besi menyala,
Satu kata serta satu perbuatan,
Badan dan baju tak terlepaskan,
Aku tiada, DIA tiada, Hanya DIA,

(firanda(.....)Pontianak. 11:34 AM, 14 Oktober 2010)

"Di Sebidang Tanah"

Firanda Anda pada 14 Oktober 2010 jam 12:48.

Ditanah yang kering kita berdiri,
Saat matahari menyinari bumi pertiwi,
Menguaplah segala kepahitan yang terkubur,
Mengumpal diangkasa menggelegar menetes membasahi,


Dentuman berhimpitan,
Menyiksa bathin dalam ratapan,
Alam dan manusia marah tak terhalang,
Api serta air mengepung pemungkiman,


Laras senjata menyobek kulit,
Luka perasaan telah ditorehkan,
Lihat mereka tertindas disebidang tanah,
Tempat berkubur tanpa mesan meninggalkan tulisan,

(firanda(....)Pontianak. 12;06 pm. 14 oKTOBER 2010)

"Tangis Terdiam"

Firanda Anda pada 14 Oktober 2010 jam 12:44.

Telah ditoreh luka sangkurmu,
Tertulis darah didada orang desa,
Menangis pahit ibu keluarga semenda,
Anak-anak kecil berlarian ketakutan,


Gegap gempita langkah sepatu,
Teracung laras senjata diujung langit,
Mondar mandir di jalan setapak perkampungan,
Bersembunyi rakyat kecil dirumah berdinding papan,


Rasa takut,
Tangis terdiam,
Tak ada suara kecuali jangkrik hutan,
Teror telah membuat mereka berkabung perasaan,

(firanda(....)Pontianak. 12:36 PM. 14 Oktober 2010)

"SEMATA'

Firanda Anda pada 14 Oktober 2010 jam 13:10.

Sehari aku menuju kesana,
Bertatap muka dengan para saudara,
Mereka yang tertindas badan dan jiwa,
Mengadu derita yang dialami mengisi periuk belanganya,



Mereka bukan pencuri,
Bukan juga sebagai perampok,
Terlebih-lebih teroris yang harus diburu,
Rakyat biasa coba bertahan hidup disejengkal tanah negeri,


Wajah-wajah kecewa,
Perih terdengar dari bicara,
Bersabar atas tertindas perlahan membunuh rasa,
Tertikam pada keyakinan untuk segempal kebenaran,


Mengapa luka terus mengalir,
Tumbuh dengan subur di tunas bangsa,
Apakah api negeri ini membakar ilalang kering nusantara,
Dari daerah desa menyala menyerbu kota yang sudah membara,


(firanda(....)Pontianak. 1:06 PM. 14 Oktober 2010)

"Dibibir Akhir Kehidupan"

Firanda Anda pada 14 Oktober 2010 jam 13:31.

Deruk mesin buldozer tertahan,
dihadang seorang ibu coba bertahan,
Sebidang tanah di perjuangkan dengan tangan,
Berpanas berdiri di batas tanah tanaman torehan,


Disisi kanan kirinya mengapit putra putri,
Sebuah keluarga kehilangan suami mewariskan sebidang,
Berkaca air mata menerka masa depan tunas dikebun akan diratakan,
Menjerit ia lantang menggugah" Hentikan perampasan"


Dua bocah disisinya mengangkat tangan,
Bermata sembab bekas kengerian ,
Disini mereka menantang,
Dibibir akhir kehidupan,

(firanda(....)Pontianak. 1:23 PM. 14 Oktober 2010)

"Robeknya Berderaku"

Firanda Anda pada 14 Oktober 2010 jam 21:46.

Negeri ini berkain merah,
Kibaran warna putih telah lapuk,
Mendung selalu menyelumit langit,
Dan air mata sudah biasa membasahi tanah,


Bukalah matamu,
Setiap langkah ada kesedihan,
Telinga selalu mendengar ratapan,
Lubang kuburan mengisi setiap harian,


kota dan desa tak ubahnya sama,
Kehidupan sosial tertindas akan merata,
Disini garuda hanya gambar kaos bukan bukan isi kepala,
Robeknya berdera di halaman rumah tanda duka menangisi nasib persada,


(firanda(...)Pontianak. 9:44 PM. 14 Oktober 2010)

"Nota Untuk Petani"

Firanda Anda pada 14 Oktober 2010 jam 22:29.

Tak ada sebuah nota,
Bahasa politispun sirna,
wajah mereka bermuka dua,
Sedang 2 orang duduk terpenjara,


Nasib si petani, Meringkuk dalam jeruji,
Bahagia telah hilang, Ayah mereka telah pergi,
Murung wajah anak, galaunya seorang istri,
Pistol membuat sepi, Jalanan desa menjadi sunyi,


Pulang kekota,
Banyak tanya mengisi kepala,
Perasaan mengisi asa tentang rakyat jelata,
Kapankah mereka bisa bersuka cita, Ceria seperti biasa,

(firanda(.....)Pontianak. 10:16 PM. 14 Oktober 2010)

"Kirimlah pesan"

Firanda Anda pada 14 Oktober 2010 jam 22:56.

Saat lelah tubuhmu,
Tarik nafas mengisi rongga dada,
Lepaskan segala resah hidup didunia,
Ingatlah sesorang sedang menanti rindu,


Dengarlah musik yang indah,
Pejamkan mata rasakan bait kata,
Lihatlah wajah kekasih dalam ingatan,
Wujud dia berbentuk bayangan,

Saat pagi tiba,
Kirimlah pesan bermakna,
Bahasa yang paling ia suka,
Kiranya bahagia ada di depan mata,

(firanda(....)Pontianak. 10:48 PM. 14 Oktober 201o)

"Indahnya Taman Karena Dia"

Firanda Anda pada 15 Oktober 2010 jam 11:01.

Karena dia,hanya dia,
Indahnya perjalanan hidupku,
Ingin engkau tahu isi hati ini,
Selalu menginginkan cinta,
kasih yang tetap nyata,
Sayang berwujud,


SeKian hari, aku menanti,
Dirimu wahai matahari, Rembulan hati,
Wahai bayangan pagi, Malam yang menyejukkan,
Hiasi rasa dengan cahaya, Pelangi yang berwarna warni,

Bersamanya, Bahagia pasti ada,
Perasaan tak pernah mati, Berbunga sepanjang waktu,
Nafasku berwangi, Sambut engkau dipintu rindu,
Indahnya taman jiwa karena ada dia,


(firanda(....)Pontianak. 10:30 AM, 15 Oktober 2010)

"Memisahkan Petani dari Padi"

Firanda Anda pada 15 Oktober 2010 jam 13:44.

Dulu hamparan padi menghijau,
Seluas pandangan menguning dijari petani,
Pipit berkicau indah menghibur wisatawan dipematang sawah,
Kala pagi burung bangau menari mengepak sayap didanau berlumpur,


Kini sawah dan ladang berubah,
Lautan perkebunan sawit menutup bumi,
Petani pergi hijrah kekota memikul besi,
Tangan yang kasar menjadi keras,


Berlomba penjabat mengubah negeri,
Mencabut akar padi coba gandum cara membeli,
Lumbung-lumbung itu hasil expor luar negeri,
Rakyat diharuskan memecah batu menggigit jari,
Politik memisahkan petani dari padi,

(Firanda(.....)Pontianak. 1:17 PM. 15 Oktober 2010)

"Kemana Negeri Ini Berlari"

Firanda Anda pada 15 Oktober 2010 jam 13:43.

Seperti apa negara ini,
Menuju kebaikan atau keburukkan,
Rakyat sibuk mengais rezeki terhalang,
Penguasa sibuk meraup uang dengan kekuasaan,


Hukum coba mengatur kehidupan,
Namun sebilah pedang tajam dibawah gagang,
Terkadang menikam mereka yang tak berdaya melawan,
Timbangan dipaksakan berat sebelah tanda keadilan,


Pelita-pelita ditepi hutan,
Lampu kota yang teang benderang,
Anak kecil membaca sedikit cahaya.
Dan penjabat berkaroke ria,


Kemana negeri ini berlari, Siapa saja yang dibawa pergi,
Gerbong pembangunan membawa kelas kakap bukan kelas ikan teri,
Hinggar bingar lagu kebangsaan hanya untuk pegawai negeri,
Rakyat kampung menyanyikan nasib pertiwi,

(firanda(....)Pontianak. 1:39 PM. 15 Oktober 2010)

"Inilah Nafas Cinta"

Firanda Anda pada 15 Oktober 2010 jam 17:43.

Sebaris kata untukmu,
Bahasa hati ingin kau baca,
Melihat sedalam apa kasih ku,
Menebak kemana fikiran membawa terbang,


Inilah nafas cinta,
Setiap suara terdengar syahdu asmara,
Hurup-hurup ditangan membayang wajah adinda,
Kala berdo'a kubawa namamu pelibur lara.


Aku disini tersenyum,
Berteman kadang tertawa,
Syukurku atas nikmat tersebut dirimu,
Disini, didada, dijiwa, di rasa, hanya dia,

(firanda(....)Pontianak, 4:54 PM. 15 Oktober 2010)

"Pemburu Madu"

oleh Firanda Anda pada 16 Oktober 2010 jam 11:48.

Inilah negeriku,
Subur menjejak tanah,
Lebah memberikan madu,
Tangan bijak menyentuh halus,
Terkumpullah manis rasa menyentuh lidah,

Sabar namanya,
Menikmati sebuah kerja,
Sang Pemburu madu diatap kota,
Berjalan menyisir harapan membawa perasaan,
Wajah nampak sederhana penuh hikmah meyentuh cipta,


Sebuah cita-cita,
Manis madu manis kehidupan,
Tatap mata di rantai garis tangan,
Berkawan lebah memberikan kebahagiaan,

(firanda(...)Pontianak. 11:40 AM. 16 Oktober 2010)

'Tanpa Honey"

oleh Firanda Anda pada 16 Oktober 2010 jam 12:40.

Malam minggu yang cerah.
Mungkin bertabur bintang dan rembulan,
Segelas copi membuang resah selimut perasaan,
Duduk berkawan membayar cara patungan,
Indahnya sebuah kebersamaan,


Biarlah sebentar tanpa honey,
Untuk semalam duduk dengan tenang,
Bebas berbicara dengan memuntahkan logika,
Disisi hati terdalam walau masih ada sesal menyerang jiwa,


Wahai lampu jalan,
Engkau yang menerangi trotoar,
Berilah cahaya mereka menikmati malam,
Hantarlah kami menuju bahagia sampai pulang,

(firanda(......)Pontianak. 12:31 PM. 16 Oktober 2010)

"Kepada Adinda"

oleh Firanda Anda pada 17 Oktober 2010 jam 0:37.

Inilah drama manusia,
Mulut mungkin bisa berbohong kata,
Prilaku kita bersembunyi dalam drama,
Hati kecil diredam rasa tersiksa,


Berliku cara mengatakan,
Tersenyum dibuat manis rupa,
Pandangan mata ditutup keruang berbeda,
Tingkah laku dipaksa sewajar saja.


Dilubuk qolbu terdiam,
Kekaguman terus disimpan,
Rasa kasih sayang tak ditampakkan,
Kepada adinda niat belum disampaikan,

(firanda(....)Pontianak. 11:19 PM. 16 Oktober 2010)

"Sang Pemuja"

oleh Firanda Anda pada 17 Oktober 2010 jam 0:36.

Sang pemuja,
Bersandar pada kata,
Bermanis menggunakan bahasa,
Tersenyum sehebat pangeran Rama,


Mungkin salah,
Terkadang benar,
Dan ini pilihan asa,
Pemuja melukis karya,
Mencipta keindahan jiwa,
Gambarkan dia begitu mempesona,


Jari menari lembut,
Bergerak dengan penjiwaan,
Rasa meleburkan logika menjadi pujaan,
Tak berujung harapan jadi sebuah pengembaraan,


Mengembara rasa..
.mengukur halusnya kata...
melembutkan budi...menghidupkan indra,

(firanda(....)Pontianak. 11:35 PM. 16 Oktober 2010)

"Dirimu"

oleh Firanda Anda pada 17 Oktober 2010 jam 0:36.

Kutahu dirimu,
Sangat dekat sekali,
Tak berhasta disampingku,
Senyum membawa segar udara pagi,


Membiarkan diri terlena,
Sekejap merasakan bahagia,
Meleburkan hati lara dalam cinta,
Pahit dan manis sudah tak ada beda,


Biarlah nafas terkurung didada,
Untaian rindu berbentuk tulisan kasmaran,
Mengobati keinginan dalam hayalan tak bertepian,
Saat tidur malam terasalah puncak kedamaian,

(Firanda(......)Pontianak. 12:09 AM. 17 Oktober 2010)

"Sinar Bulan di Pelupuk Mata"

oleh Firanda Anda pada 17 Oktober 2010 jam 1:04.

Sinar rembulan,
Malam yang berkabut,
Temaramnya lampu kota,
Perlahan membawa rasa bimbang,


Di pelupuk mata,
Didasar hati mengais kata,
Tersenyum membuang durja,
Bertahan dijalan yang berkelok dihadapan,


Terasa Dingin,
Badan menuai Sejuk,
Terbaring dikasur Mimpi,
Tuhan bawalah Sadarku kembali,

(firanda(....)Pontianak. 12:54 AM. 17 Oktober 2010)

"Lagi musim menghidupkan mesin politik dan mematikan mesin politik kawan"

oleh Firanda Anda pada 17 Oktober 2010 jam 22:09.

Kekuasaan,
politik kendaraan,
Menyusun partai sebagai barisan,
Benar dan salah adalah cara setiap orang,
Alangkah bijak memberi pelajaran menysun peradaban,


Lagi musim menghidupkan mesin politik,
Dibeberapa kabupaten banyak pemilihan,
Para petualang kekuasaan memainkan peran,
Goyang sana sini meruntuhkan saingan tak terelakkan,
Sayang cara berbudi sering ditinggalkan dibelakang dengan memainkan uang,



dan mematikan mesin politik kawan...,
Ini mungkin sebuah dekadensi perebutan kekuasaan,
Menohok kawan menenggelamkan sampan bukan bentuk tauladan,
Alangkah indahnya cara berpendidikan membangun pemhaman politik rakyat terbelakang,
Semoga saja...rakyat negeri ini...cerdas memilih pemimpin....membela hak rakyat ternaungi terang,


(firanda(....)Pontianak. 9:57 PM. 17 Oktober 2010)

/ aku akan tetap tersenyum//

Firanda Anda pada 17 Oktober 2010 jam 1:30.

Bila cinta adlah air mata,
Berurai jatuh membasahi pipi,
Mengusap tangan menyeka linangan,
Menahan rasa menutup kata,

Aku akan tetap tersenyum,
Wajah tampak berseri tiada lamunan,
Menatap wajah menekan perasaan,
Untukmu semua kebahagiaan,


Agar kmu tahu ak begitu tulus menyayangimu,
Mengucap jujur keluar dari qolbu paling dalam,
Mengatakan ini tak mudah pada kekasih pujaan,
Biarlah tulisan mewakili kata yang tersembunyi diam,


(firanda(.......)Pontianak. 1:20 AM. 17 Oktober 2010)

"Rinduku Bernyanyi"

Firanda Anda pada 17 Oktober 2010 jam 11:47.

Kekasih tercinta,
Penyejuk dua mata,
Penghibur seluruh jiwa,
Peredam api didalam dada,


Rindu ku bernyanyi,
Indah terasa menggetarkan hati,
Lagu tercipta dari hasrat membumbung tinggi,
Hari minggu terasa bergelora asmara sisa malam tadi,


Dan disakiskan matahari,
Aku sampaikan kasih keinginan qolbu,
Renungan atas kata-kata terukir dinding malam,
Menggapai engkau dalam mimpi yang telah usai semalam,

(firanda(.......)Pontianak. 17 Oktober 2010)

"Sufi mu"

oleh Firanda Anda pada 17 Oktober 2010 jam 12:29.

Kesufian yang terlontarkan,
Entah tulisan atau ucapan insan,
Sebuah keyakinan bergenang kehidupan,
Menyusuri jejak jiwa diri sendiri merentas kebahagiaan,


Terlampau rindu jiwa,
Terlalu berfikir dengan bicara,
Seharusnya diam tak mengungkap rahasia,
Setiap orang tentu berbeda jalan capaiannya,


Logika menempuh cara,
Bathin menggali bermacam makna,
Guru memberikan benang merah sebuah tanda,
Jangan mengumbar kata, bahasa dan logika didepan manusia,

(firanda(.....)Pontianak. 12:14 PM. 17 Oktober 2010)

"Juwita"

Juwita nan ayu,


Wajah lebut ceria selalu,


Terseyum memukau qolbu,


Bahasamu selalu memberi keteduhan rindu,





Adakah malam bisa bertemu,


Atau pagi berjumpa saat matahari muncul malu,


Bisakah impian tercapai wahai angin yang bertiup dingin,


Dan kepada awan hapuskan resahku mengantar tidur didipan,





(firanda(....)Pontianak. 10:22 PM. 17 Oktober 2010)

"Mendekap putraku"

Firanda Anda pada 17 Oktober 2010 jam 22:50.

Mendekap buah hati,
tersenyum mencium pipi,
Geraknya membanggakan diri,
Menemani seumur hidup sampai mati,


Menimang nimang sikecil,
Bahagia pada sipandangan mata,
Mengelus dada kala ia mulai bercanda,
Lari- lari kecil membuat kita semua gembira,


Wahai putra pelipur lara,
Buah permata tersimpan rasa,
Ibunda akan tetap selalu menjaga,
melepas engkau saat terbang ke angkasa,


(Firanda(...)Pontianak. 3:52 PM. 21 Ouktober 2010)

"Hari Kemiskinan"

Firanda Anda pada 18 Oktober 2010 jam 23:54.

Ironi dan menyedihkan,
Kita lihat negeri kemiskinan,
Negara terbelakang dipusat peradaban,
Sana sini wilayah nusantara ada tak makan,


Kemiskinan atau pemiskinan,
Aku tak tahu, Namun kenyataan terpandang,
Bergelimpangan anak, ibu dan ayah meregang badan,
Akhiri hidup untuk sepiring nasi penyambung kehidupan,


Nyawa-nyawa terbaring berjejeran,
Tanah nan subur telah diperjual belikan,
Lautan bermacam ikan dibiarkan dicuri orang,
Dan pemerintah serta orang kaya telah melupakan ,
Taqdir nasib saudara negeri ini terhempas kebijaksanaan,


Firanda(......)Pontianak. 11:46 PM.18 Oktober 2010)

"Tangis mereka Dengarkan"

oleh Firanda Anda pada 19 Oktober 2010 jam 13:15.


Aku lihat mereka menuntut hak,
Perampasan tanah milik banyak warga,
Atas nama investasi untuk kekayaan sekelompok orang,
Pemerintahan membiarkan masyarakat kelimpungan keadilan,


Lihat aparat membawa senjata,
Berjalan mengelilingi desa bersama-sama,
Mengintimidasi, menteror setiap orang yang merdeka,
Atas nama hukum menindas memperbudak anak bangsa,


Semnetara rakyat negeri ini berdiam,
Tak secuilpun kita memberikan perhatian,
Hati dan rasa para penjabat tertutup debu kemewahan,
Pekik, teiak serta tangis mereka tak pernah engkau dengarkan,

(firanda(.....)Pontianak. 12:11 AM. 19 Oktober 2010)

"Retak Tangan"

oleh Firanda Anda pada 19 Oktober 2010 jam 14:14.

Kadang aku merenung dalam,
Tenggelam dalam lamunan impian,
Harapan serta keinginan disandarkan,
Melihat retak tangan menebak jalan kehidupan,


Berjalan tertatih tatih dikeduniaan,
Melangkah bathin dengan kondisi remuk redam,
Ada tawa menghiasi wajah yang tak tampan,
Rintihan qolbu hanya kepada Tuhan,


Kulihat mereka menatapku,
Wajah lugu penuh kasih sayang,
Masyarakat kampung hidup penuh tertekan,
Sebuah pembelaan atas ketertindasan dijantung perasaan,


(firanda(....)Pontianak. 1:32 PM. 19 Oktober 2010)

"Raung Buldozer"

oleh Firanda Anda pada 19 Oktober 2010 jam 22:12.

Terdengar raung buldozer,
Rimba yang sunyi menjadi hiruk pikuk,
Penghuni hutan berlarian pontang panting menyelamatkan diri,
Tumbangan pohon akan menimpa mematikan,


Sibuknya para kuli memikul beban,
Membuang dan meratakan tanah gumpalan,
Berkeringat sepuluh ribu rupiah perharian,
Otak dan perasaan tertutup kehidupan,


Dan dia berdinas,
Duduk dimeja ber ac,
Menghitung setoran bukan perpajakan,
Tersenyum di tumpukkan uang sementara alam merana dipedalaman,


(firanda(.......)Pontianak.10:05 PM. 19 Oktober 2010)

"Alam Berkabung"

oleh Firanda Anda pada 19 Oktober 2010 jam 22:29

Alam merajuk marah,
Diamnya bukan tak susah,
kulit wajah merah marah merekah,
Bencana akibat ulah tangan halus merampas berkah,


"Aku"kata sang alam,
Tak ada dendam didiriku,
Bencana terjadi bukan balasan,
Inilah resiko manusia atas rusaknya lingkungan,


Malapetaka itu pedih,
Nyawa dan kehidupan terenggut,
Tangis serta darah mengalir tak terelakkan,
Berkabung aku atas kezhaliman membuat penderitaan,


(firanda(.....)Pontianak. 10:23 PM. 19 Oktober 2010)

"Penyesalan Tiada Berguna"

oleh Firanda Anda pada 19 Oktober 2010 jam 22:52.

Bacalah dikitab kitab,
Buku-buku modern membahas,
Dosa merampas milik negara atau rakyat jelata,
Dan jangan lupa ada pembalasan tiada tara siksanya,


Mungkin hari ini engkau bergembira,
Membelanjakan harta untuk kesenangan saja,
Riuh rendah memamerkan status sosial didepan manusia,
Gembiranya bagaikan surga di atas dunia,



Namun terdengar bisikan halus,
Bukalah perasaanmu di alam keterbukaan,
Banyak kutukan dari manusia serta alam yang menderita,
Jiwa -jiwa terdiam bersuara lirih mengalir deras kepada Pencipta,
Saatnya nanti penyesalanmu hampir tiada berguna,

(Firanda(......)Pontianak. 10:48 PM. 19 Oktober 2010)

"Ini Mungkin Kapitalisme"

Firanda Anda pada 19 Oktober 2010 jam 23:11.

Dan aku hanya merenung,
Lapar dan hausmu tak terbendung,
Air lautan tak cukup engkau minum,
Puluhan ribu hektar tanah ternyata tidak mengeyangkan,


Mungkin dunia ingin engkau miliki,
Menancapkan nama sebagai pemilik seorang,
Manusia dan binatang engkau jadikan mainan,
Budak-budak dipaksa menyerahkan diri untuk melayani,


Ini mungkin peodalisme,
Bentuk Kapitalisme,
Wajah Rakuisme,
Dasar Is meee,

(firanda(....)Pontianak, 11:09 PM. 19 Oktober 2010)

" @warnet remang2. Online sambil luluran & pijat..."

Firanda Anda pada 19 Oktober 2010 jam 23:24


@warnet remang-remang,
Hadir mengisi pojok temaram,
kala malam cahaya lampu tak begitu terang,
Bulanpun yang indah terasa tak menyenangkan,


Online sambil luluran,
Air penyejuk membasahi kulit,
Perlahan menyentuh mengeluarkan desahan,
Dan jaripun berhenti menahan kenikmatan,


Pijat..., badan terasa nyaman,
Urat yang tegang kini kendur tak tertahan,
Tangannya menari melumpuhkan kelelahan,
Hasrat tidur raga telah siap untuk dibaringkan,

(firanda(.....)Pontianak> 11:21 PM. 19 Oktober 2010)

"Mengukir Cahaya Dilangit Berawan"

oleh Firanda Anda pada 20 Oktober 2010 jam 0:01.

Aku hanya menulis kata,
Caba melatih sopannya hamba,
Mengelap kaca yang kotor oleh debu jiwa,
Perlahan membuka rasa menangkap penomena,


Terucap bahasa,
Melantunkan syair makna,
Menasehati diri sendiri hidup didunia,
Mengikuti jalan berharap ada cahaya,


Terkadang harus terdiam,
Menutup perasaan kala ada salah paham,
Memohon maaf jika tulisan menyinggung asa seseorang,
Jika baik silakan diambil dan kalau buruk buanglah di tanah comberan,

Akupun berharap kita adalah insan, mengukir cahaya dilangit berawan,


(firanda(.....)Pontianak. 11:43 PM. 19 Oktober 2010)

"R...Madrid"

oleh Firanda Anda pada 20 Oktober 2010 jam 2:29.


Sebatang.....menemani,
Segelas copi aceh yang hangat,
Layar TV yang begitu jelas,
Bersandar dibantal guling,
Bahagia saat menang,
RMA 2-0 ACM.


Mata begitu terang,
Kantukpun lenyap tak berjengkang,
Kesebelasan Vaforit maju tak terhalang,
Ku akan berjaga memuaskan perasaan,


Teknik tingkat tinggi,
Strategi indah menyenangkan hati,
Merelakan badan dingin menyelimuti,
Saling mengerti serta Keterampilan mengiringi sendra tari,


(firanda(.....) Pontianak. 2:26 AM. 20 Oktober 2010)

"Ilmu itu Cahaya"

oleh Firanda Anda pada 20 Oktober 2010 jam 16:12.

Urusan kita, Orang terdidik katanya,
Tak peduli Aparatur pemerintah, swasta dan pengangguran,
Berilah kata bijaksana yang berguna bagi warga negara,
Hidupkan ilmu pengetahuan walau sedikit saja,


Akan bermunculan cahaya,
Sinar terang dari pribadi-pribadi biasa,
Tangan kasar berlogika memberi bekas nyata,
Tangan menggapai jadi bermakna,


Mata-mata bening penuh asa,
Menatap hari membuat karya,
Membela diri dengan semangat baja,
Argumen keadilan bertumpu pada kesadaran ,
Menipislah celah-celah penindasan diruang kemerdekaan,
(firanda(.....)Pontianak. 4:06 PM. 20 Oktober 2010)

"Wahai Dinding"

oleh Firanda Anda pada 20 Oktober 2010 jam 19:47.

Wahai dinding dan tembok,
Redamlah suaraku mengugat,
Jadilah papan untuk ditulis isi fikiran,
Sebagai pengingat pendapat serta keresahan,


Menatap engkau disini,
Memandang setiap goresan,
Tersenyum memandang perbuatan tangan,
Huruf serta gambar telah kulukiskan.


Terkadang sedih,
Karya ini akan terhapus,
Termakan oleh tuntutan ruang,
Tergusur disebabkan pembangunan,

(firanda(....)Pontianak. 4:25 PM. 20 Oktober 2010)

"Hilangnya Senyuman"

oleh Firanda Anda pada 20 Oktober 2010 jam 21:39.

Dan engkau marah,
Mungkin pipi berwarna merah,
Diam seolah tak pernah ada masalah,
Gerutu hati tak mau mengalah,


Dan pria itu terdiam,
Bersabar menunggu pembicaraan,
Tak ingin ia mengusik perasaan,
Berdiri merasa meredam,

Menyapa pada kekasih,
Coba mencairkan kegundahan,
Resah ini seharusnya tak boleh bertahan,
Dan dia kehilangan senyum yang menawan,

(firanda(.....)Pontianak.9:35 PM. 20 Oktober 2010)

"Dia Berdo'a"

oleh Firanda Anda pada 20 Oktober 2010 jam 22:12.

Duduk menyendiri,
Bersandar pada sebuah tiang,
Tatapan mata jauh diujung penantian,
Dibawah naungan sebuah mihrap,


Kemudian dengus nafas tertahan,
Beberapa penyesalan bergelantungan,
Beban perasaan perlahan memakan kehidupan,
Sekali-kali berkerut keningnya mencari jalan keluar menyenangkan,


"Tuhan" dia berdo'a,
"Sampaikanlah senyumanku padanya"
"Katakan aku masih mencintai dia"
"Seterusnya selalu tetap setia"


(firanda(....)Pontianak.10:09 PM. 20 Oktober 2010)

"Engkau Menghukum Perasaan"

oleh Firanda Anda pada 20 Oktober 2010 jam 22:39

Engkau sedang menghukum,
Membiarkan dia dalam keresahan,
Terlalu lama masa berlaku diam.
Tak sepatah kata dituliskan,


Siksaan itu telah dirasakan,
Terbesit sebuah penyesalan,
Rasa bersalah tak terbilang,
Bersembunyi hati dalam keceriaan,


Waktunya melihat fhoto,
Menghibur rasa yang remuk redam,
Menyenangkan diri melupakan kesusahan,
Biarlah waktu akan mengobati perasaan,


(firanda(.....)Pontianak>10:34 PM. 20 Oktober 2010)