Sabtu, 07 Januari 2012

"Panas"


oleh Firanda Anda pada 24 Agustus 2011 pukul 22:06

Panasnya Matahari,
Pasir kugengam membara,
Tanah kuinjak membelah kering,
Udara kuhisap terasa kering merontang,


Ah neraka ini,
Sebab sudah mata sang kodok,
Merintih lagi pohon dan ranting,
Rumputpun tertunduk lesu,


Cukupkah hanya do'a,
Bisakah hanya bicara,
Sesajian apalagi untuk memanggil dewa,
Hus..dengusku pada logika, Ini ulah kita,


(firanda,Ketapang, 8:57 PM. 24 agustus 2011)

"Yang Hijau"


oleh Firanda Anda pada 17 September 2011 pukul 16:42

Aku berbisik pada daun,
Renungkan sang Matahari,
Dawai angin menerpa telinga,
Jerit jiwa mereka yang hijau meminta,


Ambulan mengaung dijalanan,
Darah dan air mata menggenangi selokkan,
Masih adakah warna putih di antara lumpur hitam,
Tangan-tangan bayi kecil mengadah penuh harapan,


Ah dunia kita,
Kabut menutupi jalan negeri,
Suara-suara tertutupi oleh gemerincing dollar,
Kuasa itu milik kita, Kini sudah tak berguna,


(Ketapang, firanda.3:40. 17 September 2011)

"Langitpun Terasa Asing"


oleh Firanda Anda pada 6 Oktober 2011 pukul 11:11

Lagu langit terasa asing,
Setiap umat  meletakkan kitab,
Lidah mereka  telah kering untuk berucap,
Makna hanya cahaya diujung barat,

Hapuslah mimpi-mimpi bunga tidur,
Berhenti engkau berjalan saat malam gulita,
Berjuta jiwa menanti awan membawa setetes harapan,
Bukalah rak-rak meja agar terbuka apa adanya,

Saksikan  alam tak bercanda,
Lidah manusia terlihat mengobarkan bara,
Illang sudah banyak terbakar membawa kabut bencana,
Saatnya menjernihkan mata, menenangkan  jiwa,
membasuh wajah  dengan meletakkan luka,

 (firanda,Ketapang. 10:07 AM. 6 oktober 2011)

"Diujung Matahari"


oleh Firanda Anda pada 6 Oktober 2011 pukul 11:46

“Saat matahari  tersenyum,
Bumi meratap kepedihan,
Nafas-nafas membawa panas,
Gerah yang berkulit  tumbuhkan  keringat,
Waktu terus memikul   taqdir,

Banyak mereka berkelubung malam,
Tubuh Merapatkan diri pada liang kuburan,
Sadar  muncul di tebing dera nasib memungut kepiluan,
Detak-detak jantung mengukur jarak kematian,
Diujung tenggorokkan menanti kepastian.


Dengarlah lantunan kehidupan,
Ini kisah berjuta asa melekat ditelinga,
Rintihan dan keresahan bagai gelombang samudra,
Ambillah satu permata, jadikan kalung  di jiwa,
Biarlah  hati  mendengar  atau berbicara untuk  mereka,


(firanda,ketapang, 10.47. 6 oktober 2011)

"Sunyi Malam"


oleh Firanda Anda pada 12 Oktober 2011 pukul 7:09

Si punggukpun  merindu   bulan,
Mengagumi  keindahan dari kejauhan,
Memuja namanya dalam sunyi diam,
Kesukaan kepada dia  tak  ditampakkan,

Siang malam menyanyikan lagu asmara,
Dentingkan senar gitar tentang cinta,
Lukiskan wajah pada relung jiwa,
Bahagia dibawa  senyum dan tawa,

Matahari telah menghapus kasmaran,
Bulan kini telah pergi meninggalkankenangan,
Tersisa hanya harapan semoga malam segera datang,
Syair-syair pemujaan dibuat diwaktu siang…dan cahaya menyilaukan,

(firanda,Pontianak. 12 Oktober 2011, 6:00AM)

"Musim Berwarna"


oleh Firanda Anda pada 12 Oktober 2011 pukul 7:52

Langit memang mendung,
Bunga-bunga duka menghiasi awan,
Perkutut malam  bersedih tanpa bulan,
Dingin hati ketika  angin  membelai  mega,

Ada hampa diRogga dada ,
Perih itu tak  lagi pernah terasa,
Dewi Asmara melupakan seribu tertikam cinta,
 Dan musim bunga  selalu berganti warna,

Terbanglah si lebah madu,
Ambil makna tanpa merusak raga,
Pergi  dengan santun tinggalkan rasa bahagia,
Hidup terus berlalu memberi  kesan rindu,


(Pontianak, Firanda, 6:52 AM, 12 Oktober 2011)

'Tajam Sekali"


oleh Firanda Anda pada 12 Oktober 2011 pukul 20:59

Sengaja aku tikamkan pisau Rahman dan Rahim  itu kedadaku,
Kini darah kerinduan menetes membanjiri kelopok mata,
Puji-pujian tersenandungkan saat hati meratap diriMU,
Nafas-nafas terasa tak teratur dengungan qolbu,

Ingin aku menari laksana jalaludin Rumi,
Tafakur diam seperti Abdul Kadir Jailani,
Berdiam diri ala Imam Nafiri,
Lima ratus kali setiap hari memuji,

Allah tuhanku,
Disini kuseret  jiwa dan bumi untuk mengabdi,
Namun Bayang-bayang duniawi menghiasi menggoda nurani,
Kini kaki  sebelah kanan disini, sementara sebelah kiri lain lagi,
Aku berdiri di dua jalan, Memilih itu sulit sekali,

Dimana aku,dimana DIRIMU,

(Firanda, Pontianak, 7:55 PM,  12 Oktober 2011)