Sabtu, 07 Januari 2012

"Panas"


oleh Firanda Anda pada 24 Agustus 2011 pukul 22:06

Panasnya Matahari,
Pasir kugengam membara,
Tanah kuinjak membelah kering,
Udara kuhisap terasa kering merontang,


Ah neraka ini,
Sebab sudah mata sang kodok,
Merintih lagi pohon dan ranting,
Rumputpun tertunduk lesu,


Cukupkah hanya do'a,
Bisakah hanya bicara,
Sesajian apalagi untuk memanggil dewa,
Hus..dengusku pada logika, Ini ulah kita,


(firanda,Ketapang, 8:57 PM. 24 agustus 2011)

"Yang Hijau"


oleh Firanda Anda pada 17 September 2011 pukul 16:42

Aku berbisik pada daun,
Renungkan sang Matahari,
Dawai angin menerpa telinga,
Jerit jiwa mereka yang hijau meminta,


Ambulan mengaung dijalanan,
Darah dan air mata menggenangi selokkan,
Masih adakah warna putih di antara lumpur hitam,
Tangan-tangan bayi kecil mengadah penuh harapan,


Ah dunia kita,
Kabut menutupi jalan negeri,
Suara-suara tertutupi oleh gemerincing dollar,
Kuasa itu milik kita, Kini sudah tak berguna,


(Ketapang, firanda.3:40. 17 September 2011)

"Langitpun Terasa Asing"


oleh Firanda Anda pada 6 Oktober 2011 pukul 11:11

Lagu langit terasa asing,
Setiap umat  meletakkan kitab,
Lidah mereka  telah kering untuk berucap,
Makna hanya cahaya diujung barat,

Hapuslah mimpi-mimpi bunga tidur,
Berhenti engkau berjalan saat malam gulita,
Berjuta jiwa menanti awan membawa setetes harapan,
Bukalah rak-rak meja agar terbuka apa adanya,

Saksikan  alam tak bercanda,
Lidah manusia terlihat mengobarkan bara,
Illang sudah banyak terbakar membawa kabut bencana,
Saatnya menjernihkan mata, menenangkan  jiwa,
membasuh wajah  dengan meletakkan luka,

 (firanda,Ketapang. 10:07 AM. 6 oktober 2011)

"Diujung Matahari"


oleh Firanda Anda pada 6 Oktober 2011 pukul 11:46

“Saat matahari  tersenyum,
Bumi meratap kepedihan,
Nafas-nafas membawa panas,
Gerah yang berkulit  tumbuhkan  keringat,
Waktu terus memikul   taqdir,

Banyak mereka berkelubung malam,
Tubuh Merapatkan diri pada liang kuburan,
Sadar  muncul di tebing dera nasib memungut kepiluan,
Detak-detak jantung mengukur jarak kematian,
Diujung tenggorokkan menanti kepastian.


Dengarlah lantunan kehidupan,
Ini kisah berjuta asa melekat ditelinga,
Rintihan dan keresahan bagai gelombang samudra,
Ambillah satu permata, jadikan kalung  di jiwa,
Biarlah  hati  mendengar  atau berbicara untuk  mereka,


(firanda,ketapang, 10.47. 6 oktober 2011)

"Sunyi Malam"


oleh Firanda Anda pada 12 Oktober 2011 pukul 7:09

Si punggukpun  merindu   bulan,
Mengagumi  keindahan dari kejauhan,
Memuja namanya dalam sunyi diam,
Kesukaan kepada dia  tak  ditampakkan,

Siang malam menyanyikan lagu asmara,
Dentingkan senar gitar tentang cinta,
Lukiskan wajah pada relung jiwa,
Bahagia dibawa  senyum dan tawa,

Matahari telah menghapus kasmaran,
Bulan kini telah pergi meninggalkankenangan,
Tersisa hanya harapan semoga malam segera datang,
Syair-syair pemujaan dibuat diwaktu siang…dan cahaya menyilaukan,

(firanda,Pontianak. 12 Oktober 2011, 6:00AM)

"Musim Berwarna"


oleh Firanda Anda pada 12 Oktober 2011 pukul 7:52

Langit memang mendung,
Bunga-bunga duka menghiasi awan,
Perkutut malam  bersedih tanpa bulan,
Dingin hati ketika  angin  membelai  mega,

Ada hampa diRogga dada ,
Perih itu tak  lagi pernah terasa,
Dewi Asmara melupakan seribu tertikam cinta,
 Dan musim bunga  selalu berganti warna,

Terbanglah si lebah madu,
Ambil makna tanpa merusak raga,
Pergi  dengan santun tinggalkan rasa bahagia,
Hidup terus berlalu memberi  kesan rindu,


(Pontianak, Firanda, 6:52 AM, 12 Oktober 2011)

'Tajam Sekali"


oleh Firanda Anda pada 12 Oktober 2011 pukul 20:59

Sengaja aku tikamkan pisau Rahman dan Rahim  itu kedadaku,
Kini darah kerinduan menetes membanjiri kelopok mata,
Puji-pujian tersenandungkan saat hati meratap diriMU,
Nafas-nafas terasa tak teratur dengungan qolbu,

Ingin aku menari laksana jalaludin Rumi,
Tafakur diam seperti Abdul Kadir Jailani,
Berdiam diri ala Imam Nafiri,
Lima ratus kali setiap hari memuji,

Allah tuhanku,
Disini kuseret  jiwa dan bumi untuk mengabdi,
Namun Bayang-bayang duniawi menghiasi menggoda nurani,
Kini kaki  sebelah kanan disini, sementara sebelah kiri lain lagi,
Aku berdiri di dua jalan, Memilih itu sulit sekali,

Dimana aku,dimana DIRIMU,

(Firanda, Pontianak, 7:55 PM,  12 Oktober 2011)

"sahabatku"


oleh Firanda Anda pada 13 Oktober 2011 pukul 23:43

Sahabat, dunia ini indah,
Melihat ia bahagia,
Dunia terasa lapang di dada,
Harta hanya hiasan, intan adalah jiwa,

Aku hanya tersenyum,
Tawa rasa suka cita,
Sulit kira merangkai kata,
Hanya Allah menolong dengan nyata,

Sahabat, hitam putih wajah kita,
Cermin budi ada di rupa hamba-hamba,
Do'a terkadang tersembunyi tanpa bahasa,
Tetaplah bahagia, Tetaplah shabatku dahulu kala,
amin, amin..amin ya Allah tuhanku,

(firanda, pontianak, 10:41 PM, 13 Oktober 2011)

"TUHAN"


oleh Firanda Anda pada 14 Oktober 2011 pukul 9:16

Saat terbangun lelahnya raga,
Terasa denyutan hati didada,
Detaknya terdengar jadi irama,
Senyumanlah tampak diwajah tanpa kaca,

Masih ternyata aku punya jiwa,
Perasaan akan duka dan bahagia,
Penjiwaan atas cinta serta kecewa,
Inilah kita pembeda dari mahluk lainnya,


Tuhan, terimakasih di pagi ini,
MilikMU yang berharga terpelihara,
Indahkan kaca air mata,
Berkahi perjalan hidup di dunia,

(firanda,Pontianak, 8:12 AM, 14 Oktober 2011)

"Perkutut" 1.


oleh Firanda Anda pada 14 Oktober 2011 pukul 14:03

Perkutut itu duduk di dahan, sambil memandangi wajah alam yang terbentang luas penuh kehijauan di kerindangan pohon-pohon, Saat itu iya berkata dalam hatinya penuh rasa gembira” Tuhan sekali lagi aku hanya bisa tersenyum bangga padaMU, Hari ini telah ENGKAU cukupi nikmat untuk aku, Tuhan, aku yang tidak meminta apapun, namun ENGKAU memberikan dengan tanpa aku kira-kira datangnya, entah dari mana.

Perkutut itu diam sesaat untuk menyusun baris kata yang ditujukan kepada dirinya dan kepada Tuhannya,” Tuhan, entah seperti apa ENGKAU memperhatikan diriku ini, sedangkan akupun tidak tahu diriku, bagaimana cintaMU, bagaimana sayangMU, bagaimana KasihMU padaku, sulit aku menggambarkan dengan kata-kata namun dapat aku rasakan, terkadang aku harus tersenyum sendiri menyaksikan TANGANMU hadir menyentuh hidupku ini. Perkutut menarik nafas dalam untuk berkata kemudian,” Tuhan ini aku dengan segala kekurangan, menyembahMU  segenap dayaku, memujiMU dengan caraku, semuanya tentu tidak bertentangan dengan Firman dan Hadisth kekasihMU.

Tuhan, hari ini aku bersyukur, Berilah kehidupan untuk mereka, seedangkan aku hanya mempunyai DIRIMU dan KekasihMU itu, dia….,dan tuhan terimakasih atas segalanya, Maaf lahir bathin atas segala kesalahanku Tuhan….
Perkutut terdiam untuk waktu yang panjang, memandang sekitarnya tanpa berkata atau berbisik dalam hati, terdiam..diam yang panjang.

(firanda,Pontianak, 12:56 PM. 14 Oktober 2011)

oleh Firanda Anda pada 14 Oktober 2011 pukul 14:03
Perkutut itu duduk di dahan, sambil memandangi wajah alam yang terbentang luas penuh kehijauan di kerindangan pohon-pohon, Saat itu iya berkata dalam hatinya penuh rasa gembira” Tuhan sekali lagi aku hanya bisa tersenyum bangga padaMU, Hari ini telah ENGKAU cukupi nikmat untuk aku, Tuhan, aku yang tidak meminta apapun, namun ENGKAU memberikan dengan tanpa aku kira-kira datangnya, entah dari mana.

Perkutut itu diam sesaat untuk menyusun baris kata yang ditujukan kepada dirinya dan kepada Tuhannya,” Tuhan, entah seperti apa ENGKAU memperhatikan diriku ini, sedangkan akupun tidak tahu diriku, bagaimana cintaMU, bagaimana sayangMU, bagaimana KasihMU padaku, sulit aku menggambarkan dengan kata-kata namun dapat aku rasakan, terkadang aku harus tersenyum sendiri menyaksikan TANGANMU hadir menyentuh hidupku ini. Perkutut menarik nafas dalam untuk berkata kemudian,” Tuhan ini aku dengan segala kekurangan, menyembahMU  segenap dayaku, memujiMU dengan caraku, semuanya tentu tidak bertentangan dengan Firman dan Hadisth kekasihMU.

Tuhan, hari ini aku bersyukur, Berilah kehidupan untuk mereka, seedangkan aku hanya mempunyai DIRIMU dan KekasihMU itu, dia….,dan tuhan terimakasih atas segalanya, Maaf lahir bathin atas segala kesalahanku Tuhan….
Perkutut terdiam untuk waktu yang panjang, memandang sekitarnya tanpa berkata atau berbisik dalam hati, terdiam..diam yang panjang.

(firanda,Pontianak, 12:56 PM. 14 Oktober 2011)

"Negeri Lahar Api"


oleh Firanda Anda pada 14 Oktober 2011 pukul 23:42

Hari ini aku lihat indonesia,
Negeri di jalur bencana,
Matahari bersinar sepanjang hari,
Awan terkadang berarak beriringan,

Disini, Tanah sudah tak dapat dimiliki,
Negara hanya simbol semu sebuah status diri,
Beragam hanya untuk pembeda diwajah cemong,
Apa arti cinta, jika hati selalu mendua pada yang berpunya,


Air disini begitu berharga,
Sejunlah uang untuk membasahi bibir,
Dahaga kesejahteraan hanya bagi para pemimpi,
Esok mungkin pandangan kita buram, seburam-buramnya,

satu bisakah untuk semua..semua kita.

(firanda,Pontianak. 10:37 M, 14 Oktober 2011)

"Kalapnya sebuah Mata"


oleh Firanda Anda pada 15 Oktober 2011 pukul 0:52

Ku ingin engkau tersenyum,
Dirimu menyimpan wajah tak terlupakan,
Mata itu bersinar penuh kasih sayang,
Aku tetap mengenang,


Malam mata terbentang,
Terjaga untuk menghadirkan bayangan,
Berbisik di hati kepada sebuah nama,
Tertidur untuk melupakan,

(firanda, pontianak, 11:50 M, 14 Oktober 2011)

" Berselimut Awan"


oleh Firanda Anda pada 16 Oktober 2011 pukul 0:45

Menulis sebuah nama,
Berat terasa awalnya,
Perlahan pasti terlaksana,
Dia wanita bermata kilauan permata,


Malam tak bercahaya,
Minggu terasa hampa,
Hati gelisah mengumpal nyata,
Perjumpaan hanya kata, 

Suara terlalu menyejukkan,
Wajah menerbitkan pesona,
Berdekatan menciptakan kerinduan,
Berjauahan terasa sakit didada,

Biarlah malam ini aku mengenang,
kini engkau yang berada di kejauhan,
Semoga tulisan ini dapat dirasakan, 
Disini berselimut awan,

(firanda, Pontianak, 11:44 PM, 15 Oktober 2011)

"GADIS MODEM'


oleh Firanda Anda pada 18 Oktober 2011 pukul 13:02

Sudah lama aku meninggalkan kebiasaan rilexku, membaca sedikit dari sebuah buku, pagi yang cerah ku kira akan baik pergi kesebuah Perpustakaan, roda motorpun berputar, suara kenalpot motor tak tertahankan, gas pun dikencangkan, menyusuri jalan A Yani yang ramai dengan berbagai tipe kendaraan, lalu lalang melintas di kaca spionku.
Akhirnya sampai ditempat yang dituju, keadaan perpustakaan tidak ade pengunjung , mungkin terlalu pagi, namun pegawai perpustakaan sudah ada di tempat, setelah mengisi daftar afsen, tas diletakkan, masuklah aku keruang buku, berak-rak buku tampak, menahan nafas aku, kalau membaca semua buku ini kira-kira berapa lama ya ? gumamku.
Perlahan kudekati rak buku yang dituju, kuambil beberapa buku, duduk aku menghadap pintu masuk ruang perpustakaan, semua ini kulakukan agar dapat melihat pengunjung, siape tahu ade yang aku kenal, dengan begitu sangat mudah aku menyapanya. Duduk aku bagaikan prof atau DR di bangku paling belakang, bolak balik halaman, bacanya sikit-sikit  jak,tak lama kemudian datang pengunjung, satu, dua, tiga empat…hampir ramai perpustakaan, semakin siang pengunjung bejubel tapi tidak kayak pasar.

Tanpa terasa ada yang duduk disampingku, kulihat berjarak satu bangku, seorang  gadis berjilbab, kulihat dia sibuk membuka buku, menghidupkan Notebook, kupandangi dia tersenyum akupun ikut tersenyum, masih kami dengan buku-buku di atas meja, penasaran, aku bertanya padanya” Dek. Hospotnya  ada disini” Dia pun menjawab” Ada bang”, diam lagi kami, sibuk lagi dengan buku-buku yang dipegang tangan, sekali lagi aku bertanya” Paswoodnya dengan siapa dek, penjaga di depan atau ada ruang lain,” Si adek menjawab” Pakai Modem bang,” Sambil tertawa.hehehehehe,  aduh fikirku, kena kerjaian lagi nih oleh  gadis ini, tertipu oleh mahasiswi.

Lama juga aku termenung, setelah beberapa buku telah dibaca, akhirnya selesai juga tujuan yang dimaksud, kulipat buku, buku –buku bacaan diletakkan, kusapa dia” Hei adek, Gadim Madem, sinyalnya jangan sampai diambil orang ya,” diapun “Iya bang,” Sambil tertawa hehehehhe.
Akupun pulang membawa cerita pendek yang menyenangkan ini,
(firanda,Pontianak. 11:56 AM. 18 Oktober 2011)

"Album Kenangan"


oleh Firanda Anda pada 19 Oktober 2011 pukul 21:45

Cinta pertama yang engkau berikan,
Bias kasih sayang menyentuh perasaan,
Panjang sudah perjalanan yang ditempuh,
Kala itu aku merasa bahagia walau badan terasa lelah,


Saat berpisah, coba memahami rasa,
Aura dirimu membayang diwajah penuh keresahan,
Pasti ini hakekat merindu terlalu dalam penuh kenangan,
Berbulan-bulan bersama telah mengukir dinding jiwa mempesona,


Telah kutulis 200 puisi ungkapan isi dada,
Saat nanti dipersembahkan sebagai hadiah,
Penjiwaan ini menyentak kata-kata terindah,
Engkau yang disana bersembunyi tanpa menyapa,


(firanda, Pontianak, 8:40 PM, 19 Oktober 2011)

"Kawan"


oleh Firanda Anda pada 20 Oktober 2011 pukul 18:54

Kawan, langit telah mencurahkan rahmatnya,
Butir-butir air jatuh di tubuh yang hijau,
Katak-katak bernyanyi pujian,
Alam terasa tersejukkan,


Kukirim salam pada engkau,
Dirimu di dalam kamar,
Dirimu yang berselimut kesejukkan,
Mereka yang menatap awan dan hujan,


Biarlah panas tercairkan,
Bunga-bunga cinta mekar di halaman,
Keindahan warna warni mengukir putihnya  mata,
Kasih sayang selalu ada digenggaman jiwa,

Amin untuk kawan.
(firanda, Pontianak. 6: 00. 20 Oktober 2011)
WebRepOverall rating

"Bunga Untuk Mu"


oleh Firanda Anda pada 21 Oktober 2011 pukul 20:24

Bunga ini kuberikan padamu,
Mawar merah berbentuk hati,
Dipetik ditaman ribuan sastra,
Keindahan itu telah mendunia,


Warna hanya satu,
Seorang yang ada di Qolbu,
Getar rasa hanya padamu,
Kerinduan bisakah menyatu,

Wajah,
Bahasa,
Sikap,
rasa,
Kita,

(firanda, Pontiank, 7:21 PM. 21 Oktober 2011)

“PERKUTUT” 6


oleh Firanda Anda pada 22 Oktober 2011 pukul 9:20

Malam yang sunyi di hutan, langit bertabur bintang, bulan terlihat berbentuk sabit menggantung di atas awang-awang,  hembusan angin tidak kuasa untuk melambaikan daun-daun hijau yang bertebaran di pohon ara, perkutut terjaga tak dapat  tertidur untuk memimpikan seorang bidadari disurga, keadaan terjaga mencoba menyusuri kegelisahan perasaan, jiwa yang terombang ambing pada kenyataan tuhan yang terus diucapkan dilidah hatinya.
Separuh hidup pekutut telah menyaksikan berbagai macam persoalan, tingkah laku makluk ciptaan tuhan, baik dan salah, gelap dan terang, kejam dan kasih sayang, bahkan ia berfikir tentang penciptaan dirinya terlahir di dunia sebagai perkutut,  seekor burung yang tak terlihat gagah, atau bisa dikatakan makluk yang disegani di seluruh makluk hidup baik di rimba maupun belahan lainnya, sambil menghela nafas berat” Tuhan”.

Detik demi detik, menit-demi menit, logika perkutut  coba mencari jawaban, dengan otak yang kecil berusaha merenungi makna kehidupan,” Aku terdiri dari daging, tulang yang terbuat dari tanah yang telah dijanjikan, sementara hidup (Nyawa) ini entah dari mana datangnya, walaupun aku memuji pemilik jasad ini, namun sampai sekarang belum dapat berkunjung atau bertatap muka SANG PENCIPTA, kerinduan akan DIRINYA , Aku Membawa jiwa serta raga selalu melantunkan kidung kehambaan tanpa henti, tanpa perduli, bahkan hidupun didunia terasa sepi, hampa, tuhanku”ujar perkutut membathin.

Perkutut tertunduk sedih, perlahan menetes air mata tanpa terasa, tanpa diminta, tanpa diupayakan, tanpa dipaksakan, kerinduan ini membawa seluruh jiwa dan raga coba mencari tempat bersemayam diriNYA, perasaan cinta terus saja menggelora bagai terpaan ombak pantai menghantam tepian  perasaan.  Kerinduannya membawa bernyanyi dimalam gelap gulita, bersenandung saat jiwa meminta, inilah cara melepas rasa rindu menjerit dalam sepinya malam”

“ Wahai pemilik jiwa,
Ijinkan hamba bersujud dengan bahagia,
Perasaan ini meminta aku menemuiMU pencipta,
Kepak sayap serta suara yang duduk terhina dihadapan Maha Mulia,
Sudilah ENGKAU menyapa aku untuk menentramkan kegelisahan hamba,

“Hamba datang tak membawa apa-apa,
Ku tahu ENGKAU maha kaya, semua ada begitu saja,
Kasih dan SayangMU sangat bermakna bagi hidup hamba,
CintaMU tentu minat para pujangga,

“Tuhan, segala keingian,
“Tuhanku, segala sesembahan,
“Tuhan, DariMU semua kasih sayang ,
“Tuhan, UntukMU senndung ini, ENGKAU Maha Pecinta Keindahan,

Perkutut kini terdiam, menikmati suasana malam di hutan tanpa terjamah oleh tangan-tangan keangkara murkaan, bathin terasa lapang, Lidah  kaku terkunci setelah melepaskan beban penjiwaan,” Tuhan, Ijinkan aku tertidur dalam mengingatMU, hamba meminta tuhan”katanya sambil merapatkan dua belah mata sambil menundukkan kepala tanda sujud beribu makna, perlahan-lahan hanya terdengar suara nafas perkutut yang keluar dari hidung, tenang, teratur, tak ada kegelisahan yang bersembunyi dalam gerak tubuh bahkan mimpinya.

Diatas kayu ara, Di tengah hutan Rimba, semua makluk yang bernyawa  disana terlelap tertidur, sebagian sibuk mencari makan sebagai taqdir, saat siang tertidur menanti senja, Kekuasaan Tuhan menyata terasa dalam diri perkutut, walau dia mahluk lemah namun tetap bersyukur atas keadaaanya, setiap hari selalu menatap hari penuh bahagia karena Allah itu nyata dan ada baginya.

(Firanda, Pontianak, 8:11 AM,22 Oktober 2011)

"Kutak Bisa Menulis Cintamu"


oleh Firanda Anda pada 24 Oktober 2011 pukul 12:54

 Suara Darimu Ayah ibu.
Rasa  rindu terus bergelantung,
Nasehat  keduanya  selalu terdengar,
Marah atau Sayang menyatu tanda kecintaan,

Tangan yang kasar dan halus  menyentuh perlahan,
Pipi ini telah terukir jari, bibir belaian  menyenangkan,
Kalian tetap  menanamkan budi  perkerti cara perlahan,
Walau air matamu tak terlihat, suka  duka ditutupi senyum bersahaja,

Aku tak bisa menulis cintamu, Ayah ibu,
Aku tak bisa berkata atas sayangmu,Ayah Ibu,
Aku tak bisa mengungkap rindumu, Ayah Ibu,
Aku tak bisa menahan Air mata untukmu, Ayah Ibu,
Disini aku menghadap pada Tuhanku, Menatap Ayah Ibu,



(firanda,  Pontianak, 11:44 AM, 24 Oktober 2011)

"Senyum Mengurai Makna"


oleh Firanda Anda pada 25 Oktober 2011 pukul 13:47

Dia berpakaian putih,
Hadir membawa canda,
Tawa kami menembus  kaca,
Panas suasana hilang semenit aja,


Gadis ini akan wisuda,
Beres2 kost agenda utama,
langkahnya beribu makna,
senyum mengurai suka,


Toga itu tanda,
Berjubah gelap mempesona,
Beriringan melepas letih mengapai cita-cita,
Esok harinya merenung, dimana akan diriku berada,

(firanda, Pontianak, 12:45 PM, 25 Oktober 2011) 

" MataKu, PembelaMu"


oleh Firanda Anda pada 25 Oktober 2011 pukul 17:55

Jangan pernah serahkan jiwamu,
Aku bukanlah pemilik jiwa itu,
Jangan serahkan perasaan mu,
Tak sanggup aku menanggung rindu,


Katakanlah dengan mata keriangan,
Tatapanmu membuat teduh aku berpergian,
Lambaikan tangan saat aku berjalan,
Pasti aku kembali saat qolbu membawa dirimu,


Tak ada pernah ragu,
Bintang dilangit ku ambil untukmu,
bahagiaku adalah bahagiamu,
Susahmu adalah susahku,
Kita adalah satu...

Rasa ini tak pernah menipu,
Kata mungkin terlihat jujur di depanmu,
Lidah mampu menyimpan kalimat palsu,
Mata adalah pembelamu  saat diriku menipu,
Aku tersiksa ketika kebohongan ada diantara sembilu,

(firanda,Pontianak. 4:50 PM. 25 Oktober 2011)

"Rinduku 24 Karat"


oleh Firanda Anda pada 26 Oktober 2011 pukul 2:26

Sulit untuk di katakan,
1000 Maaf bukan alasan,
Kini waktu tak bisa pulang,
Rinduku 24 karat mendulang,


Sabarlah wahai kekasih,
Abang jauh bukan tak sayang,
Biarlah Simbol cinta tertera di awan,
Ku tulis serat jiwa di hati berdendang lidah,


Pejamkanlah mata itu,
Lukiskan wajah ini menggunakan qolbu,
Merindu aku rindu juga dirimu,
Dalam asa kita menyatu.


(firanda, Pontianak, 1:18 AM, 26 Oktober 2011)

"Baiknya Do'a Itu"


oleh Firanda Anda pada 26 Oktober 2011 pukul 18:05

Ada Mendung tak sia-sia,
Terkadang hujan itu berkah,
Tak selama kilat dilangit bencana,
Cahayanya menghidupkan ribuan kegelapan,

Duka dalam diam,
Sedih bersembunyi tenang,
Baiknya do'a-do'a kepiluan padaNYA,
Bersujudlah cara mengungkapkannya
Biar mahluk tak melihat kenyataan,


Terkadang kerikil adalah peringatan,
Lusuhnya badan bukan berarti tak bahagia,
Jalan-jalan berdebu terkadang menutup mata,
Ricuhnya kehidupan membuat taqdir  bermakna,

(firanda, Pontianak. 5:03 PM, 26 Oktober 2011)

"Makan Malam..Sahabat"


oleh Firanda Anda pada 26 Oktober 2011 pukul 22:28

Terimakasih sahabat,
Tubuh terguyur air hangat,
Penat terasa terbuang walau lambat,


Kangkung tumis,
Udang disayur tomat,
Ikan goreng tonggkol disambal kecap pedas,
Liurpun kutahan untuk tidak lepas, perut mengocak beringas,


Nikmat tersaji di meja bundar,
Aroma menghempas hidung, keinginan terkapar,
Saat perlahan sedikit  demi sedikit mulutpun bergetar,
Oh...inilah makan malam menyenangkan..Kukunyah,

(firanda, Pontianak, 9:17 PM. 26 Oktober 2011)

Jumat, 06 Januari 2012

"MALAM INI"


oleh Firanda Anda pada 27 Oktober 2011 pukul 0:44

Syair malamku,
Biduanita memapak rembulan,
tersihir kegelapan berkalung bintang,
Bibir tertutup keindahan disaksikan mata telanjang,


Duhai pohon yang terdiam,
Jangkrik bernyanyi sendirian,
Angin berhempus bawa kesejukkan,
Bidadari menghempas talam rasa cemburuan,


Kasih sayang jangan dibuang,
Saat benci menghantam mengiris tulang,
Biarlah hari jadi cerita, Tahun kemudian terkenang,
Ku nyanyikan lagu ketika suka duka menyatu dalam impian,

(firanda, Pontianak, 11:33 PM. 26 Oktober 2011)