oleh Firanda Anda pada 06 Oktober 2010 jam 22:10
Jasadnya letih oleh benturan peradaban, raga tertiup oleh debu peradaban tak bergerak dari penindasan dan intimidasi yang menyesakkan, nafasnya tersengal-sengal menghirup udara membawa butiran debu pergulatan antara manusia dan mesin.
Mungkin sudah renta atau karena jasadnya sudah tak berdaya, mungkin juga makan sekarang telah bercampur zat kimia, kini tulang belulang telah menjadi rapuh, sementara kulit berkerut bersama debu jalanan yang terbang di udara kota, Hampir diyakini setiap langkah kaki yang digerakkannya penuh perjuangan, semangat dan kemauan cukup tinggi, tak berdaya.
Otot-otot yang dulu mampu menahan dan memikul beban cukup berat kini hanya beberapa kilo saja terangkat pundak yang renta, Keriput dipundak bekas saluran keringat mengungkapkan catatan perjuangan, sejarah perjalanan naik dan turun peradaban, memahami pergantian pimpinan dengan logika kesederhanaan, rakyat kecil diluar garis kekuasaan bahkan harta dan tahta.
Matanya terlihat rabun, tampak sudah tak putih lagi seperti kaca, akan menyilaukan tertimpa cahaya, ada warna kekuningan begitu terlihat, kata dokter katarak, katanya ini bukti bahwa saya telah tua renta, Ini mata yang memandang perubahan dari generasi ke generasi berikutnya di negeri ini, Mata ini yang berkata tanpa harus bicara”ujarnya.
Telingaku katanya, menjadi saksi bahayanya fitnah dan kabar bahagia, dengan telinga renta ini mendengar hiruk pikuk peradaban, gonjang ganjing kehidupan, banyak hal yang didengar baik itu rahasia maupun hanya bumbu cerita. Memanglah si telinga, banyak hal yang didapatnya membantu situa renta menjalani hidup.
Kini giginya sudah tak, Gigitan sudah tak sekuat dulu, tidak mempuni lagi, kurang taringnya, Terkadang ia berseloroh bahwa panggang ayam yang tersaji sangat menyingung perasaan bahkan terkesan menghina, Inilah kenyataan yang dihadapi, seekor ayam goring telah berani menghina si orang tua, Terkenang dulu masa mudanya, Panggang ayam goring di pinggan tak bisa bergerak lagi dihadapannya.
Merenunglah ia, sadarlah ia, yakinlah ia, kini usia telah lanjut senja, menanti panggilan pencipta, hari-harinya mengurangi bicara, melihat yang tak pantas menurut agama dan banyak bekerja semampunya, Inilah cara menampik dosa, hanya dengan merenungi usia dia menjadi amat sangat dewasa, Inilah penglihatan yang ditunjukkan kepada yang muda….kita yang menuju ketua.
(Firanda(…..) Pontianak, 9:45 PM. 6 Oktober 2010)
Jumat, 22 Oktober 2010
"DIA BERCERITA"
Diposting oleh
Voice Of Borneo
di
03.57
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
0 komentar:
Posting Komentar