Minggu, 12 Desember 2010

Aku Belum Bisa Jadi Pelayan

oleh Firanda Anda pada 12 Desember 2010 jam 20:56

Inilah hikmah hidup, terpetik minggu ini, nasib telah diuji oleh Allah Swt, dalam renungan diriku yang daif ini, menyatakan diriku belum bisa menjadi pelayan, abdi dan pembela rakyat kita yang sesungguhnya, miris hatiku mengenang ketidak sanggupan dan kesiapan diri sendiri untuk mereka.

Sebuah peristiwa terjadi, Jum’at siang sekitar jam 12:20 WIB, hari tertanggal 10 desember 2010, saya kedatangan tamu agung dari daerah, sebuah kabupaten, 25 orang masyarakat ke kantor, dimana semua orang yang ada yang saya kenal ada juga yang tidak saya kenal, semua datang penuh harapan, semangat dan bahagia.tampak diwajah mereka.

Rata-rata sebagian orang tua dan sebagian orang muda, lelah tampak dari raut wajah setelah demo di bundaran, silaturahmi untuk menjalin persaudaraan yang sekali pernah bertemu, cukup ramailah untuk ukuran rumah(Kantor) kami, padat, senang rasanya bertemu mereka. Bahagia hatiku, sulit aku sembunyikan didepan mereka.
Perbincangan kami tentang keadaan masing-masing, rupa semua sehat adanya, Alhamdulillah.  Kemudian pembicaraan berhubungan dengan kasus-kasus mereka, panjang juga diskusi bersama 25 masyarakat. Mengenai proses kasus sampai dimana, siapa saja yang ditahan, apa saja yang dilakukan warga untuk membela hak-hak mereka.

Terbesit di hati pelayananku kurang baik atau tidak cukup, ditengah keuangan yang merit, sempit dan ketiadaan, misalnya menjamu minum kopi terasa kurang, ruang istirahat yang tidak cukup, menjamu makan terlalu siang  sehingga mereka menahan lapar sampai tertidur, tak bisa melayani berbicara dengan semua orang, tetap tersenyum di tengah keresahan, hati teriris dan malu tak bisa memberikan hal terbaik pada mereka saudaraku yang datang dari jauh. Ya Allah Ya Rasulullah.

Kini berkacalah aku pada kaca hati, kaca tangan dan kaca budi pekerti ini, nyatalah, tampaklah aku bukan pelayan yang baik bagi mereka para tamu agung dari kampung, Ya Allah. Kan aku taruh dimana wajahku ini. Maafkan saudaraku aku tak bisa menjadi tuan dirumahku dan menjadi pelayan yang baik pada kamu semua, Maafkanlah Aku.

Namun yang membuat aku bahagia bisa bertemu mereka dalam keadaan sehat, senyum setulus kapas dan berbudi mulia diantara para durzana, Allah menunjukkan kepadaku tentang mereka, Mungkin lain kali aku siap dengan segalanya hanya membahagiakan mereka sepanjang menjadi tamuku, keluargaku dan sudi bertemu kepadaku ya Allah.

Kisah ini sebagai tanda maafku pada mereka(25 orang) yang tak bisa kuucapkan dengan kata, tersampaikan kepada saudara didepan mata, sebab malu…malu ini dan malu diriku.

Pontianak, 12 Desember 2010.
Tertanda
Firanda

0 komentar:

Posting Komentar