Firanda Anda pada 05 November 2010 jam 15:58
Inilah lagu kesedihanku,
Dari kebun karet terdengar memilukan,
Pohon -pohon itu kini tak akan kelihatan rindang,
Tumbang tak bernyawa oleh deru mesin uang dan kekuasaaan,
Kampung yang tentram kini panas membara,
Anak-anak diusir dari tanah kelahirannya serta tempat bermain,
Ibu-ibu menatap sendu menetes air mata, meratapi nasib putra putri,
Ayah dan anak laki-laki bahu membahu berteriak, Ini tanah dan kebun kami,
Apalah daya kini, suara dibungkam bogam,
Protes dihadang ujung pistol aparat memihak uang,
Keinginan disumbat oleh intimidasi dan ancaman ,
Cita-cita dihadang kebijaksanaan penguasa,
Dua orang telah berdarah air mata tertahan,
Hilang sudah budaya kemanusiaan diganti kekerasan,
Penindasan oleh pemerintah, pengusaha dan aparat,
Terdengarlah dari alam menuntut suara kedamaian,
Hati-hati luka berdarah cikal bakal dendam,
Saat waktu tertumpah tak terlawan,
Ketika itu kita akan menyalahkan mereka,
Masyarakat tertindas diam terpendam,
(Utk dua sahabat ku yang teraniaya Lezi dan Humaini yang terbaring di Rumah Sakit Sambas, kejadian didusun Sari Medan, Desa Semata Kecamatan Teluk Keramat dan masyarakat yang tertindas, terancam hanya utk cucuran keringat pohon karet yang ditanam serta menjadi tumpuan hidup keluarga...di kecamatan Teluk Keramat Desa Semayong dan Desa Semata....)
(firanda(.....)Pontianak. 8: 02 AM. 5 November 2010)
Jumat, 12 November 2010
"Darah dari Desa Semata"
Diposting oleh
Voice Of Borneo
di
09.19
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
0 komentar:
Posting Komentar